Bencana NTT di tengah Perayaan Kemerdekaan, Apa Makna Merdeka?
- 19 Agt 2026 15:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung meriah di berbagai daerah. Upacara digelar, bendera berkibar, warga mengadakan lomba, panggung hiburan, hingga berbagai kegiatan sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan.
Namun di tengah suasana tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana makna kemerdekaan bagi masyarakat yang pada saat bersamaan sedang menghadapi bencana?
Pertanyaan itu muncul dari seorang pendengar dalam program Pesona Budaya Obrolan Komunitas Pro 1 RRI Malang bertema “Manusia Merdeka”, bersama H. Joko Setiono, ST, MMT.
Pendengar tersebut menyoroti kondisi masyarakat di Nusa Tenggara Timur yang tengah menghadapi bencana gempa. Ketika sebagian masyarakat dapat merayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan, ada saudara sebangsa yang justru sedang memikirkan keselamatan keluarga dan masa depan mereka setelah bencana.
“Seperti apa makna merdeka bagi mereka yang hari ini mungkin masih memikirkan keselamatan keluarganya?” demikian kegelisahan yang disampaikan pendengar.
Pertanyaan tersebut sekaligus membawa diskusi tentang kemerdekaan ke ruang yang lebih luas. Kemerdekaan bukan hanya soal simbol dan perayaan, tetapi juga tentang sejauh mana setiap warga negara dapat merasakan perlindungan, rasa aman, dan kehadiran negara ketika berada dalam situasi sulit.
Menanggapi hal itu, Joko Setiono mengajak masyarakat melihat kondisi tersebut dengan kepekaan dan rasa kemanusiaan. Menurutnya, peringatan kemerdekaan dan kepedulian terhadap saudara yang sedang tertimpa musibah seharusnya tidak dipertentangkan.
Di satu sisi, bangsa Indonesia memiliki anugerah kemerdekaan yang patut disyukuri. Namun di sisi lain, masyarakat juga tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan warga lain.
“Dalam satu sisi kita menerima anugerah kemerdekaan untuk diperingati, satu sisi kita melihat saudara kita yang menderita,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Ia berharap penanganan terhadap masyarakat terdampak bencana dapat terus dilakukan, mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Bagi Joko, kemerdekaan juga harus tercermin melalui hadirnya kepedulian dan tanggung jawab bersama ketika sebagian warga sedang menghadapi kesulitan.
Diskusi tersebut kemudian membawa makna kemerdekaan pada gagasan memayu hayuning sesami. Filosofi Jawa ini menempatkan manusia tidak hanya sebagai individu yang mengejar keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang memiliki kewajiban menjaga dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Semangat itu, menurut Joko, dapat dimulai dari lingkup paling kecil, yaitu diri sendiri. Setelah mampu mengendalikan diri, manusia kemudian membawa nilai tersebut ke dalam keluarga, lingkungan, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa.
Gotong royong menjadi salah satu bentuk nyata dari kemerdekaan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Menurutnya, berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan yang berlangsung di tingkat RT dan RW sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki kekuatan sosial untuk bergerak bersama.
Warga rela menjadi panitia, mengumpulkan dana, menyiapkan berbagai kegiatan, hingga bekerja sama untuk memeriahkan lingkungan. Energi tersebut menunjukkan bahwa ketika masyarakat memiliki tujuan bersama, semangat gotong royong masih dapat mengalahkan berbagai persoalan dan perbedaan.
Namun Joko juga mengajak masyarakat untuk terus melakukan refleksi. Alam, menurutnya, dapat menjadi guru bagi manusia untuk kembali melihat hubungan antara kehidupan pribadi, sosial, dan lingkungan.
“Alam itu bisa menjadi profesor kita. Alam itu bisa menjadi guru besar kita,” katanya.
Dalam konteks tersebut, bencana tidak hanya dilihat sebagai peristiwa yang harus ditangani secara fisik melalui bantuan dan pemulihan. Bencana juga dapat menjadi pengingat bahwa manusia perlu terus melakukan evaluasi terhadap cara hidup, hubungan dengan sesama, dan kepedulian terhadap lingkungan.
| Baca juga: Mendak Tirta Awali Rangkaian Yadnya Kasada |
Refleksi HUT ke-81 RI akhirnya membawa satu pertanyaan penting: apakah kemerdekaan sudah benar-benar dirasakan secara setara oleh seluruh warga?
Bagi sebagian orang, kemerdekaan mungkin dirasakan melalui kesempatan untuk berkarya, berpendapat, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Namun bagi mereka yang sedang kehilangan rumah, menghadapi bencana, kesulitan ekonomi, atau berada dalam kondisi rentan, kemerdekaan bisa memiliki makna yang jauh lebih mendasar, yakni kesempatan untuk hidup aman dan layak.
Karena itu, perayaan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti ketika panggung hiburan selesai dan lomba 17-an berakhir. Kemerdekaan perlu diterjemahkan menjadi kepedulian yang nyata.
Menolong yang terdampak bencana, berani menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, menjaga toleransi, menguatkan gotong royong, dan memastikan tidak ada warga yang ditinggalkan menjadi bagian dari cara mengisi kemerdekaan.
Seperti pesan Joko dalam penutup diskusi, manusia Indonesia harus mampu bertahan menghadapi berbagai “badai”, mulai dari badai politik, ekonomi, hingga budaya, tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa.
Sebab, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tantangan kemerdekaan bukan lagi sekadar membebaskan diri dari penjajahan fisik. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan manusia Indonesia tetap mampu berpikir merdeka, menjaga jati dirinya, peduli terhadap sesama, serta tidak membiarkan kemerdekaan hanya menjadi milik mereka yang sedang berada dalam keadaan baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....