Bukan Sekadar Hiburan, Hikmah di Balik Tradisi Lomba Kemerdekaan
- 17 Agt 2026 12:37 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tradisi lomba dalam perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar hiburan untuk memeriahkan suasana. Hal ini dikatakan ustadz Nur Cholis, SE diacara Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang, Jum'at (14/8/2026) pagi.
"Tradisi lomba dalam perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar hiburan untuk memeriahkan suasana. Dibalik kegembiraan dan persaingan, terdapat nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan kepada anak - anak, generasi muda, hingga orang dewasa," katanya.
Pembicara dari Kemenag kota Malang ini mengajak masyarakat melihat kembali makna lima lomba yang populer di bulan kemerdekaan.
"Pertama, balap karung mengajarkan ketabahan dan pantang menyerah. Peserta harus melompat, menjaga keseimbangan, bahkan terkadang terjatuh untuk mencapai garis akhir. Gambaran tersebut mengingatkan bahwa kehidupan juga memiliki ujian dan kesulitan," tambahnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pesannya sederhana: kalau jatuh, bangun; kalau gagal, belajar; kalau sulit, berdoa dan berusaha.
Kedua, lomba makan kerupuk mengajarkan syukur dan tidak berlebihan. Kerupuk yang sederhana menjadi pengingat agar kita menghargai makanan dan rezeki. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'rafayat 31, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih - lebihan.” Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga tidak menyia - nyiakan nikmat dan menghindari perilaku mubazir.
Ketiga, tarik tambang mengajarkan gotong royong dan persatuan. Kekuatan satu orang tentu berbeda dengan kekuatan banyak orang yang bersatu. Islam pun mengajarkan, “Tolong - menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan” (QS. Al-Ma'idah: 2). Rasulullah menggambarkan orang beriman seperti bangunan yang saling menguatkan. Karena itu, kehidupan tidak seharusnya dibangun dengan sikap individualis.
Keempat, panjat pinang mengajarkan perjuangan dan saling membantu. Ada yang menjadi pijakan, ada yang memanjat, ada yang menjaga, dan ada yang memberikan semangat. Semuanya memiliki peran. Orang yang berada diatas tidak boleh merasa paling hebat karena keberhasilannya juga dibangun oleh orang lain. Rasulullah bersabda bahwa Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya (HR. Muslim).
Kelima, balap bakiak mengajarkan kekompakan dan keselarasan. Peserta harus melangkah bersama. Jika satu orang terlalu cepat, semua bisa terjatuh. Begitu pula kehidupan bermasyarakat. Kita perlu belajar mendengarkan, bersabar, menyesuaikan diri, dan mengesampingkan ego demi kepentingan bersama. Allah SWT mengingat kandalam QS. Ali 'Imran ayat 103 agar manusia berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.
Dari kelima lomba tersebut, terdapat lima nilai utama: balap karung mengajarkan ketabahan, makan kerupuk mengajarkan syukur, tarik tambang mengajarkan gotong royong, panjat pinang mengajarkan kerjasama, dan bakiak mengajarkan kekompakan.
Nilai tersebut jangan hanya berhenti di arena lomba. Jangan sampai kita sangat bersemangat bekerjasama ketika perlombaan berlangsung, tetapi setelah lomba selesai kembali menjadi individualis. Semangat membantu, peduli, dan menghargai sesama harus dibawa kedalam kehidupan sehari-hari.
Menang atau kalah pun memiliki hikmah. Ketika menang, kita belajar bersyukur dan rendah hati. Ketika kalah, kita belajar menerima, mengevaluasi diri, dan mencoba kembali. Sebab yang paling penting bukan sekadar siapa yang menjadi juara, tetapi nilai kebaikan apa yang kita bawa pulang.
Kemerdekaan juga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Syukur bukan hanya dengan memasang bendera atau mengikuti lomba, tetapi dengan mengisi kemerdekaan melalui kebaikan: belajar dengan sungguh - sungguh, bekerja dengan amanah, mencari rezeki yang halal, melayani masyarakat dengan baik, serta saling membantu. Jika dahulu para pejuang melawan penjajahan, maka perjuangan generasi hari ini adalah melawan kebodohan dengan ilmu, kemalasan dengan kerja keras, kemiskinan dengan kepedulian, perpecahan dengan persaudaraan, dan keputusasaan dengan iman. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sebaik - baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)," jelasnya
Dalam penutunya beliau kembali mengingatkan, lomba kemerdekaan bukan hanya sebagai permainan, tetapi sebagai ruang belajar. Hadiahnya boleh selesai, perlombaannya boleh berakhir, tetapi semangat persatuan, gotong royong, syukur, perjuangan, dan kepedulian harus terus hidup dalam setiap generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....