Takir Plontang Sarat Makna dalam Tradisi Barikan Menjelang 1 Suro

  • 17 Jun 2026 09:06 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Takir plontang, wadah makanan tradisional yang terbuat dari daun pisang, masih menjadi bagian penting dalam tradisi Barikan yang digelar masyarakat Desa Ringinanom, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Senin (15/6/2026) sore. Tradisi yang dilaksanakan menjelang peringatan 1 Suro tersebut menjadi wujud pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam pelaksanaan Barikan, takir plontang digunakan sebagai wadah berbagai sajian yang kemudian dibawa warga untuk didoakan bersama. Selain ramah lingkungan, penggunaan daun pisang juga mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan masyarakat dengan alam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Muhammad To'ib, tokoh yang disepuhkan oleh warga setempat, menjelaskan bahwa takir plontang tidak sekadar berfungsi sebagai wadah makanan, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Menurutnya, setiap unsur dalam takir plontang mengandung pesan kehidupan yang mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur, hidup rukun, dan menjaga hubungan baik dengan sesama maupun lingkungan sekitar.

“Takir plontang bukan hanya tempat makanan. Dalam tradisi Jawa, takir mengandung simbol agar manusia selalu berpikir jernih, menjaga perilaku, dan mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Sementara bahan dari daun pisang mengingatkan kita untuk hidup sederhana serta memanfaatkan alam dengan bijaksana,” ujarnya.

Melalui tradisi Barikan dan penggunaan takir plontang, masyarakat Desa Ringinanom berharap nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi muda. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga dalam menyambut datangnya bulan Suro yang sarat makna dalam budaya Jawa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....