People Pleaser Bukan Sekadar Orang yang Terlalu Baik

  • 12 Agt 2026 15:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Kebiasaan selalu mengatakan “iya” kepada orang lain tidak selalu menunjukkan seseorang memiliki pribadi yang baik dan suka membantu. Psikolog Ritna Sandri, M.Psi., menjelaskan, perilaku people pleaser dapat muncul karena kecemasan, rasa bersalah, serta ketakutan ditolak atau ditinggalkan.

Menurut Ritna, orang yang memiliki perilaku people pleaser sebenarnya berbeda dengan individu yang membantu orang lain secara sehat. Orang tetap dapat bersikap baik sekaligus mampu mengatakan tidak ketika sedang lelah, memiliki pekerjaan lain, atau memang tidak mampu membantu.

“People pleaser itu melakukan tindakan-tindakan baik karena ada kecenderungan merasa bersalah kalau tidak bisa membantu,” ujar Ritna saat dikonfirmasi RRI, Senin (10/8/2026).

Ia menjelaskan, seseorang dengan kecenderungan tersebut sering kali khawatir hubungan interpersonalnya akan bermasalah apabila tidak memenuhi keinginan orang lain. Karena itu, keputusan untuk membantu tidak selalu muncul dari keinginan tulus, tetapi dapat didorong kebutuhan untuk diterima dan dihargai.

Ritna menyebut sejumlah karakteristik yang dapat menjadi tanda seseorang mulai terjebak dalam perilaku people pleaser. Di antaranya sulit mengatakan tidak, terlalu memikirkan penilaian orang lain, serta lebih mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan kebutuhan diri sendiri.

Selain itu, individu tersebut cenderung berusaha menghindari konflik demi menjaga suasana tetap nyaman. Kebiasaan meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan juga dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan.

“Biasanya ada perasaan bertanggung jawab atas kebahagiaan atau emosi orang lain,” jelasnya.

Ritna mengatakan, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan pengalaman seseorang sejak masa kanak-kanak, termasuk pola hubungan dengan orang tua atau pengasuh. Melalui hubungan tersebut, anak belajar apakah dirinya aman, layak dicintai, serta bagaimana membangun hubungan emosional ketika dewasa.

Salah satu pola yang dapat berperan adalah insecure attachment, ketika seseorang belajar bahwa dirinya akan dicintai atau dihargai apabila mampu memenuhi keinginan orang lain. Pola tersebut kemudian berpotensi terbawa hingga dewasa dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, maupun pasangan.

“Dia akan dicintai, disayangi ketika dia berhasil memenuhi keinginan pengasuh atau orang tuanya,” kata Ritna.

Namun, menurutnya, pengalaman masa kecil bukan satu-satunya faktor yang dapat membentuk perilaku people pleaser. Pengalaman kekerasan, perundungan, pengabaian, relasi manipulatif, faktor lingkungan, budaya, harga diri rendah, hingga kecemasan juga dapat berperan.

Karena penyebabnya dapat berbeda pada setiap individu, Ritna menilai perilaku yang terlihat sama belum tentu memiliki akar masalah yang sama. Pemahaman terhadap penyebab tersebut diperlukan agar upaya membantu seseorang dapat dilakukan secara tepat.

Ia menambahkan, seseorang yang pernah mengalami penolakan atau pengalaman relasi tidak aman dapat menjadi lebih sensitif terhadap perubahan emosi orang lain. Menyenangkan orang lain kemudian dapat berkembang menjadi respons untuk melindungi diri dari kemungkinan ditolak atau ditinggalkan.

Ritna mengingatkan, kemampuan mengatakan tidak menjadi pembeda penting antara perilaku baik yang sehat dan people pleasing. Membantu orang lain tetap merupakan hal positif selama seseorang tidak kehilangan kemampuan mengenali kebutuhan serta batas dirinya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....