Merdeka dengan Akhlak, Bersatu untuk Indonesia: Meneladani Perjuangan Rasulullah

  • 24 Agt 2026 12:47 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang beriringan dengan semangat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali merenungkan makna perjuangan, persatuan, dan amanah dalam kehidupan berbangsa.

Pesan tersebut disampaikan Ustad Nur Cholis, SE, dalam acara Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang, Jumat (21/8/2026) pagi, dengan mengangkat tema “Cahaya Maulid hingga Semangat Kemerdekaan: Merdeka dengan Akhlak, Bersatu untuk Indonesia.”

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi dan kemerdekaan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi harus menjadi momentum untuk mengambil nilai-nilai perjuangan Rasulullah SAW dan para pahlawan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui momentum ini, masyarakat diajak tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengambil nilai perjuangan Rasulullah sebagai pedoman dalam mengisi kemerdekaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, perjuangan Rasulullah SAW dan perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan dua peristiwa yang berbeda zaman dan konteks. Namun, nilai-nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya tetap relevan untuk menjadi inspirasi dalam membangun Indonesia yang merdeka, beriman, berakhlak, dan bersatu.

Membebaskan Manusia dari Kejahiliahan

Pelajaran pertama yang dapat diambil adalah perjuangan Rasulullah SAW dalam membebaskan manusia dari kejahiliahan.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketidakadilan, perbudakan, fanatisme kesukuan, hingga penindasan terhadap kaum lemah. Rasulullah SAW kemudian membawa risalah tauhid yang mengangkat harkat dan martabat manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa.

Pesan tersebut, kata Ustad Nur Cholis, sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, adat, dan agama.

Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan atau bermusuhan. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk saling mengenal, menghormati, dan membangun persatuan.

Berani Berhijrah dan Berubah

Pelajaran kedua adalah keberanian untuk berhijrah dan melakukan perubahan.

Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah perjuangan untuk menyelamatkan agama sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal bergantung pada niatnya.

Dalam konteks kehidupan saat ini, hijrah dapat dimaknai sebagai keberanian untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Dari kemalasan menuju kesungguhan, dari kebohongan menuju kejujuran, dari kebencian menuju kasih sayang, serta dari perpecahan menuju persatuan.

“Indonesia membutuhkan keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu yang merusak bangsa dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik,” tegasnya.

Membangun Persaudaraan

Pelajaran ketiga adalah pentingnya membangun persaudaraan.

Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW tidak hanya membangun masjid sebagai pusat kehidupan umat, tetapi juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Peristiwa tersebut menjadi teladan bahwa masyarakat yang kuat tidak harus dibangun atas dasar keseragaman, melainkan kemampuan untuk saling menerima dan saling menolong.

Semangat tersebut juga tercermin dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Kemerdekaan diperjuangkan oleh berbagai unsur bangsa dengan latar belakang yang berbeda. Karena itu, perbedaan pilihan, organisasi, suku, budaya, maupun pendapat tidak semestinya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Berbeda tidak harus bermusuhan.

Jika para pahlawan mampu mengesampingkan perbedaan demi memperjuangkan kemerdekaan, maka tugas generasi saat ini adalah menjaga persatuan demi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Kemerdekaan Adalah Amanah

Pelajaran keempat adalah memahami bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan sebuah amanah.

Jika dahulu para pahlawan berjuang melawan penjajahan, maka perjuangan masyarakat saat ini memiliki bentuk yang berbeda. Kebodohan harus dilawan dengan ilmu, kemiskinan dengan kepedulian, korupsi dengan kejujuran, hoaks dengan tabayun, kebencian dengan kasih sayang, dan perpecahan dengan persatuan.

Perjuangan tidak selalu berarti mengangkat senjata.

Seorang guru yang mendidik dengan ikhlas, pegawai yang memberikan pelayanan dengan jujur, orang tua yang membimbing anak dengan akhlak yang baik, serta generasi muda yang belajar dengan sungguh-sungguh, semuanya merupakan bagian dari perjuangan membangun masa depan bangsa.

Masyarakat juga diajak memiliki keberanian untuk mengingatkan ketika melihat keburukan. Namun, keberanian tersebut harus disertai hikmah, didasarkan pada fakta, dan disampaikan melalui cara serta saluran yang benar.

Jangan sampai kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air mata para pahlawan justru dikotori oleh pengkhianatan terhadap amanah, keserakahan, dan korupsi.

Mengisi Kemerdekaan dengan Akhlak

Pelajaran kelima adalah mengisi kebebasan dengan akhlak.

Maulid Nabi Muhammad SAW mengingatkan umat kepada keteladanan Rasulullah, sementara peringatan kemerdekaan mengingatkan bangsa Indonesia pada perjuangan dan pengorbanan para pahlawan.

Keduanya bertemu dalam satu pesan penting: kemerdekaan harus diisi dengan iman, persatuan, kejujuran, dan akhlak mulia.

Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan adalah kemampuan menggunakan kebebasan untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama.

Jangan sampai bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan, tetapi masyarakatnya masih terjajah oleh kebencian, keserakahan, fitnah, permusuhan, korupsi, dan kesombongan.

Jangan pula sampai generasi penerus mengkhianati perjuangan para pendahulu dengan mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepada mereka.

Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan dan lantunan shalawat. Akhlak beliau harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula Merah Putih tidak cukup hanya dikibarkan. Semangat persatuan yang menjadi fondasi bangsa harus terus dijaga. Jasa para pahlawan tidak cukup hanya dikenang, tetapi semangat perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanannya harus diteruskan oleh generasi saat ini.

Kepada para pendengar setia Radio Pro 4 RRI Malang 105,3 FM, disampaikan bahwa semangat Maulid Nabi dan kemerdekaan hendaknya menjadi ajakan bersama untuk terus memperbaiki diri sekaligus membangun bangsa.

“Jangan khianati perjuangan dengan mengkhianati amanah. Merdekalah dengan iman, berjuanglah dengan akhlak, dan bersatulah untuk Indonesia.”

Kajian kemudian dilanjutkan dengan rubrik diskusi interaktif bersama para pendengar. Masyarakat diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman, pertanyaan, serta pandangan sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran bahwa menjaga dan mengisi kemerdekaan Indonesia merupakan tanggung jawab bersama.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....