Kekerasan pada Anak Tak Selalu Fisik, Psikolog Ingatkan Orang Tua Waspada

  • 13 Jul 2026 11:31 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Kekerasan terhadap anak tidak selalu berupa pukulan atau tindakan fisik. Bentakan yang terus-menerus, ancaman, hingga pengabaian kebutuhan emosional anak juga termasuk bentuk kekerasan yang dapat berdampak pada perkembangan psikologis mereka hingga dewasa.

Menurut Mardliyatus Sa'diyah, M. Psi., Psikolog., masyarakat masih banyak yang memahami kekerasan terhadap anak sebatas tindakan memukul atau melukai secara fisik. Padahal, dalam kajian psikologi, bentuk kekerasan jauh lebih luas.

"Kekerasan itu tidak hanya tentang fisik, tetapi juga kekerasan psikologis, kekerasan seksual, hingga penelantaran. Bahkan kegagalan orang tua mendampingi tumbuh kembang anak juga termasuk bentuk kekerasan yang sering tidak disadari," ujarnya saat dikonfirmasi RRI pada Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, pengabaian terhadap kebutuhan emosional anak menjadi salah satu bentuk kekerasan yang kini semakin sering ditemukan. Kondisi tersebut banyak terjadi ketika kedua orang tua sama-sama sibuk bekerja sehingga kebutuhan materi anak memang terpenuhi, tetapi kehadiran emosional orang tua justru minim.

"Orang tua memberikan makan, pakaian, dan kebutuhan lainnya, tetapi kehadiran emosionalnya sangat kurang. Padahal itu juga penting bagi perkembangan anak," katanya.

Mardliyatus menambahkan, tanda-tanda awal anak yang mengalami kekerasan sering kali dapat dikenali melalui perubahan perilaku sehari-hari. Anak dapat menunjukkan rasa takut berlebihan ketika bertemu orang tertentu, menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga mudah menangis tanpa sebab yang jelas.

Selain itu, perubahan prestasi belajar di sekolah juga perlu menjadi perhatian orang tua. Anak yang sebelumnya aktif dan terbuka dapat berubah menjadi tertutup, kesulitan berkonsentrasi, bahkan mengalami penurunan prestasi sebagai bentuk respons terhadap tekanan psikologis yang dialaminya.

"Perubahan yang tidak wajar dalam kehidupan sehari-hari perlu ditelusuri penyebabnya. Misalnya anak yang tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, atau prestasinya menurun," jelasnya.

Gejala lain yang juga perlu diwaspadai adalah terjadinya regresi perkembangan. Menurutnya, anak yang sebelumnya sudah mampu mengendalikan kebiasaan tertentu dapat kembali menunjukkan perilaku seperti anak yang lebih kecil.

"Misalnya anak usia lima tahun yang tiba-tiba kembali ngompol atau menjadi terbata-bata saat berbicara ketika ditanya sesuatu. Itu bisa menjadi sinyal yang perlu diperhatikan lebih lanjut," ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kepekaan orang tua ketika anak menunjukkan ketakutan terhadap rumah atau enggan pulang. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan tanda serius yang tidak boleh diabaikan.

"Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak. Kalau sampai anak mengatakan takut pulang, itu sudah menjadi alarm merah yang harus segera dicari penyebabnya," tegasnya.

Mardliyatus menjelaskan, pengalaman kekerasan yang terus berlangsung dapat memengaruhi pembentukan kepribadian anak, kemampuan bersosialisasi, hingga proses tumbuh kembangnya. Karena itu, apabila orang tua atau guru menemukan tanda-tanda tersebut, diperlukan komunikasi yang baik dengan anak untuk mengetahui penyebabnya.

"Jika diperlukan, keluarga juga disarankan melibatkan tenaga profesional agar kondisi anak dapat ditangani sedini mungkin sebelum menimbulkan dampak yang lebih berat," katanya.

Menurutnya, deteksi dini menjadi langkah penting agar anak memperoleh perlindungan sekaligus pendampingan yang tepat. Harapannya agar anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan psikologisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....