Konsep Sistem Pendidikan dalam Mencerdaskan Generasi Hindu

  • 16 Apr 2026 19:37 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Pendidikan dalam ajaran Hindu menjadi salah satu pilar utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia yang unggul. Hal ini disampaikan oleh narasumber Mimbar Hindu Pro1 RRI Malang, Ir. Made Sunada, M.T., yang menegaskan bahwa setiap ajaran agama pada dasarnya mendorong umatnya untuk terus menguasai ilmu pengetahuan sebagai bekal menjalani kehidupan.

Ia menjelaskan, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, spiritualitas, serta rasa bhakti yang kuat berdasarkan ajaran Weda. Menurutnya, pendidikan yang ideal harus mampu menciptakan keseimbangan antara kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual.

“Dalam konteks Hindu, pendidikan itu diarahkan untuk membentuk manusia yang seimbang, tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan emosional,” ujarnya pada Rabu (15/4/2026).

Lebih lanjut dijelaskan, tujuan akhir dari pendidikan dalam ajaran Hindu tidak terlepas dari konsep Catur Purushartha, yakni dharma, artha, kama, dan moksa. Keempat tujuan hidup tersebut menjadi arah dalam membangun generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual.

Made Sunada menambahkan, terdapat beberapa prinsip dasar dalam sistem pendidikan Hindu. Salah satunya adalah pendidikan holistik, yang menekankan pembentukan manusia secara utuh, baik dari sisi akademik maupun kepribadian. Konsep ini digambarkan melalui simbol Dewi Saraswati sebagai lambang ilmu pengetahuan.

“Pendidikan holistik ini tidak hanya fokus pada kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan karakter yang berlandaskan moral dan ajaran agama,” jelasnya.

Selain itu, terdapat konsep Catur Asrama, yang menempatkan masa Brahmacari sebagai fase paling ideal untuk menempuh pendidikan. Pada tahap ini, individu diharapkan mampu menyerap ilmu secara optimal sebagai bekal menjalani tahapan kehidupan selanjutnya.

Ia menegaskan bahwa setelah melewati masa Brahmacari, seseorang diharapkan telah memiliki kesiapan untuk menghadapi fase kehidupan berikutnya dengan bekal ilmu dan karakter yang kuat.

Prinsip berikutnya adalah Aguron-guron, yakni sistem pembelajaran yang menitikberatkan pada hubungan antara guru dan murid. Dalam konsep ini, proses transfer ilmu tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga pemahaman dan pembentukan sikap.

“Peran guru sangat penting dalam mentransfer ilmu sekaligus membentuk karakter siswa agar mampu memahami nilai-nilai kehidupan,” katanya.

Tidak hanya itu, pendidikan Hindu juga menanamkan ajaran Pancasrada, yaitu lima dasar keyakinan yang menjadi fondasi dalam memperkuat keimanan umat Hindu. Melalui pendidikan, nilai-nilai ini ditanamkan sejak dini agar mampu menjadi pedoman hidup.

Selanjutnya, terdapat konsep Sadripu, yang mengajarkan pengendalian diri terhadap enam musuh dalam diri manusia seperti amarah, kesombongan, dan iri hati. Pendidikan berperan penting dalam membentuk pribadi yang mampu mengendalikan diri dari pengaruh negatif tersebut.

Konsep lainnya adalah Tri Hita Karana, yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Nilai ini menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan.

Pada akhirnya, seluruh konsep pendidikan tersebut bertujuan untuk membentuk manusia yang satwika, yakni pribadi yang mampu membedakan antara yang baik dan buruk serta menjalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.

“Itulah harapan dari pendidikan dalam ajaran Hindu, yaitu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....