Jejak Desa Kuno Wurandungan dalam Prasasti Abad ke-10
- 21 Feb 2026 16:04 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Nama Wurandungan tercatat dalam sejumlah prasasti kuno yang menunjukkan pentingnya wilayah tersebut dalam sejarah Malang Raya. Salah satu sumber utama adalah Prasasti Wurandungan I yang bertarikh 10 paro terang bulan Phalguna tahun 869 Śaka atau bertepatan dengan 23 Februari 948 Masehi.
"Prasasti tersebut ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno, berisi perintah Śrī Mahārāja Mpu Siṇḍok agar tanah-tanah yang di atasnya berdiri bangunan suci di wilayah kekuasaan Rakryan Kanuruhan dijadikan sebagai tanah sīma atau tanah bebas pajak. Salah satu bangunan suci yang disebut adalah Sang Hyang Dharmma Kahyangan yang berada di Wurandungan," Kata Suwardono, Sejarawan Malang ketika memberi keterangan pada RRI, Sabtu (21/2/2026).
Suwardono melanjutkan, secara kronologis, nama Wurandungan telah disebut lebih awal dalam Prasasti Limus atau Sugih Manek tahun 915 M. Pada masa itu, Wurandungan merupakan bagian dari wilayah Kerakaian Kanuruhan yang diduga merupakan kesinambungan dari Kerajaan Kanjuruhan di Malang.
"Pada perkembangan berikutnya, desa ini ditetapkan sebagai desa swatantra, menandakan kedudukan administratif yang cukup penting," ujarnya.
Menurut Suwardono, peran Wurandungan terus berlanjut hingga masa Kerajaan Kadiri. Berdasarkan Prasasti Pamotoh tahun 1120 M, wilayah ini digambarkan sebagai desa yang telah tertata secara ekonomi, ditandai dengan keberadaan pasar sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Seiring perjalanan waktu, nama Wurandungan mengalami perubahan menjadi Pelandungan, kemudian Kelandungan. Pada masa kolonial Belanda, Dusun Pelandungan tercatat dalam peta tahun 1923 dengan posisi di sebelah timur Sungai Metro.
"Kini, wilayah tersebut dikenal sebagai bagian dari RW 02 Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang," katanya.
Suwardono juga menambahkan, berdasarkan data prasasti dan administrasi tersebut, tanggal 23 Februari 948 M kemudian dijadikan sebagai rujukan Hari Jadi desa setempat. Hal tersebut diwujudkan sebagai bentuk pengakuan terhadap akar sejarah wilayah Tlogomas dan sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....