Detik-Detik Gugurnya Raja Kertanagara dan Bukti Runtuhnya Singhasari

  • 17 Feb 2026 17:52 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Serangan mendadak pasukan Kadiri dari arah selatan menjadi penentu runtuhnya Kerajaan Singhasari dan gugurnya Raja Kertanagara pada tahun 1292 Masehi. Peristiwa tragis ini terekam dalam berbagai naskah kuno serta diperkuat oleh bukti-bukti arkeologis yang masih dapat disaksikan hingga kini.

Suwardono, sejarawan Malang, menjelaskan bahwa ketika pasukan Singhasari dipancing keluar untuk menghadapi serangan dari utara, pasukan utama Kadiri di bawah pimpinan Patih Kebo Mundarang bergerak tanpa tanda-tanda perang menuju pura Singhasari.

“Pasukan dari selatan ini tidak membawa bendera maupun alat bunyi-bunyian. Mereka bergerak senyap hingga langsung menyerbu pusat kerajaan,” jelasnya dalam program Pesona Budaya RRI Pro 1 Malang, Senin (16/2/2026).

Mpu Raganatha dan Mantri Angabaya Wirakreti sempat memperingatkan Raja Kertanagara agar tidak lengah. Bahkan dalam Kidung Harsa Wijaya disebutkan bahwa seorang raja tidak pantas gugur di keputrian, melainkan harus menghadapi musuh secara ksatria.

"Raja Kertanagara akhirnya turun langsung melawan pasukan Kadiri, namun gugur bersama Mpu Raganatha dan Wirakreti dalam pertempuran sengit," kisahnya.

Upaya penyelamatan oleh Mahisa Anengah serta Raden Wijaya tidak membuahkan hasil. Raden Wijaya yang sebelumnya berhasil memukul mundur pasukan musuh di Mameling, terkejut mendapati pura Singhasari telah porak-poranda.

"Karena jumlah pasukan Kadiri yang jauh lebih besar, ia terpaksa mundur dan menyelamatkan diri," lanjut Suwardono.

Runtuhnya Singhasari juga meninggalkan jejak fisik yang dapat diamati hingga kini. Kompleks Candi Singosari yang tidak selesai dibangun menunjukkan bahwa kehancuran kerajaan terjadi secara mendadak. Selain itu, arca Camunda ditemukan dalam kondisi hancur berkeping-keping, diduga akibat serangan saat Raja Kertanagara tengah melakukan upacara tantra.

“Bukti-bukti ini menegaskan bahwa kejatuhan Singhasari bukan sekadar cerita teks, melainkan peristiwa sejarah besar yang meninggalkan jejak nyata,” pungkas Suwardono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....