Tujuh Golongan Mati Syahid dalam Islam
- 02 Feb 2026 12:06 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Dalam ajaran Islam, mati syahid sering kali dipahami sebagai kematian bagi mereka yang gugur di medan perang membela agama Allah. Namun, Islam sebagai agama rahmat memberikan kabar gembira bahwa syahid tidak hanya terbatas pada peperangan. Hal ini disampaikan oleh Ustadzah Hj. Dewi Latifah dalam Mutiara Pagi, bahwa Rasulullah menjelaskan adanya beberapa golongan umat Islam yang juga memperoleh keutamaan mati syahid karena musibah dan penderitaan tertentu.
“Islam itu agama yang sangat adil dan penuh kasih sayang. Allah tidak hanya memuliakan orang yang wafat di medan perang, tetapi juga hamba-hamba-Nya yang wafat dalam kondisi penuh ujian dan kesabaran,” kata Ustadzah Latifah pada Senin (2/2/2026). Ia menegaskan bahwa syarat utamanya adalah iman, menjalankan perintah Allah, serta berusaha menjauhi larangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Ustadzah Latifah menjelaskan, golongan pertama yang termasuk mati syahid adalah orang yang meninggal karena sakit perut atau penyakit dalam yang berat. Selanjutnya, orang yang meninggal karena tenggelam, baik di laut, sungai, banjir, maupun akibat longsor, juga mendapatkan keutamaan yang sama. “Ini menunjukkan bahwa musibah besar yang merenggut nyawa seseorang tidak sia-sia di sisi Allah, selama ia wafat dalam keadaan beriman,” jelasnya.
Selain itu, orang yang meninggal karena sakit pinggang atau ginjal, serta mereka yang wafat akibat tha’un atau wabah penyakit menular yang telah menyebar luas, juga termasuk dalam golongan mati syahid. Menurut Ustadzah Latifah, wabah adalah ujian kolektif yang menuntut kesabaran dan keteguhan iman. “Orang yang tetap sabar, bertawakal, dan wafat karena wabah, Allah beri pahala besar seperti syahid,” ungkapnya.
Golongan berikutnya adalah orang yang meninggal akibat tertimpa bangunan, seperti dalam peristiwa gempa bumi atau runtuhnya rumah. Musibah ini termasuk kematian mendadak yang berat. Selain itu, Islam juga sangat memuliakan seorang ibu yang meninggal dunia saat melahirkan. “Pengorbanan seorang ibu luar biasa. Rasa sakit dan perjuangannya dinilai sebagai jihad, sehingga wafatnya ibu saat melahirkan digolongkan mati syahid,” katanya.
Terakhir, orang yang meninggal karena sakit paru-paru juga termasuk dalam tujuh golongan mati syahid. Penyakit ini kerap menyebabkan penderitaan panjang dan melemahkan fisik. “Allah Maha Mengetahui beratnya ujian setiap hamba. Tidak ada rasa sakit yang sia-sia jika dijalani dengan iman dan kesabaran,” tegas Ustadzah Latifah.
Sebagai penutup, Ustadzah Latifah mengingatkan bahwa tujuan utama seorang muslim bukanlah mencari cara mati, melainkan memperbaiki cara hidup. “Yang paling penting bukan bagaimana kita meninggal, tetapi bagaimana kita hidup dalam ketaatan. Semoga kita semua diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....