Cara Menumbuhkan Sikap Tawadhu' dalam Diri

  • 31 Jan 2026 09:40 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Menumbuhkan Sikap Tawadhu’ dalam Diri, kali ini dibahas Ustaz Dedi N. Abdullah Tillu, M.Pd.I., dalam program siaran Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang. Hal ini dinilai sangat relevan menjelang bulan suci Ramadan dan momentum malam Nisfu Sya’ban.

Ustaz Dedi menjelaskan bahwa malam 12 Ruwah atau Nisfu Sya’ban merupakan malam yang penuh keutamaan dan dianjurkan untuk diisi dengan berbagai ibadah, seperti membaca Surah Yasin, memperbanyak doa, dan dzikir. Namun, ia mengingatkan bahwa ikhtiar dan ibadah tidak cukup dilakukan secara lahiriah semata, melainkan juga harus dibarengi dengan kebersihan hati.

"Amal ibadah bisa kehilangan nilainya di hadapan Allah SWT apabila diiringi dengan sikap sombong," katanya pada Sabtu (31/1/2026).

Menurutnya, kesombongan dapat muncul dari berbagai hal, seperti kebanggaan terhadap nasab, kekayaan, jabatan, ilmu, kecantikan atau ketampanan, bahkan dari ibadah yang dilakukan, padahal semua hal tersebut bersifat sementara dan tidak kekal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengingatkan bahwa seseorang tidak akan masuk surga apabila di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun hanya sebesar biji zarrah.

"Oleh karena itu, umat Islam diimbau agar tidak kehilangan keutamaan malam Nisfu Sya’ban hanya karena merasa lebih baik dari orang lain," ujarnya.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Dedi juga mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah dan setetes air mani. Hal itu menjadi pengingat agar manusia tidak bersikap sombong atas kehormatan, jabatan, maupun kekayaan yang dimilikinya.

"Ketika Allah memuliakan seseorang dan masyarakat tidak melihat kekurangannya, maka hal itu seharusnya semakin mendorong seseorang untuk bersikap rendah hati," tegasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Dedi menyampaikan bahwa salah satu cara menumbuhkan sikap tawadhu’ adalah dengan mengenali diri sendiri. Hal ini dilakukan melalui muhasabah, terutama di malam hari sebelum tidur dengan melaksanakan shalat sunnah dan perenungan diri.

"Selain itu, sikap menghormati orang lain dan berani meminta maaf meskipun merasa tidak bersalah merupakan bentuk tawadhu’ yang luar biasa dan dapat menumbuhkan keikhlasan dalam berbuat tanpa pamrih," ujarnya.

Sebagai penutup, Ustaz Dedi menegaskan bahwa sebaik apa pun pandangan orang terhadap diri kita, tetap ada kelemahan yang kita miliki. Oleh karena itu, kelebihan, keagungan, dan kemuliaan tidak pantas dijadikan alasan untuk menyombongkan diri.

"Justru dengan menjaga sikap tawadhu’, kemuliaan seorang hamba akan semakin bertambah di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala," tutupnya. (Mey)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....