Pitutur Luhur Budaya Jawa untuk Capai Keseimbangan

  • 29 Jan 2026 18:25 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Program Pesona Budaya yang disiarkan Pro 1 RRI Malang, menghadirkan narasumber Eko Agus Susilo, S.Sos., M.Si., dengan tema reflektif seputar Pitutur Luhur Jawa dan Perilaku Manusia di Era Modern. Dalam perbincangan tersebut, Eko menyoroti bagaimana nilai-nilai budaya Jawa sejak dahulu berfungsi sebagai pagar moral agar manusia tidak melampaui batas dalam bersikap dan bertindak.

"Budaya Jawa kaya akan pitutur luhur seperti wani ngalah (berani mengalah) dan andhap asor (rendah hati), yang sejatinya dirancang untuk menjaga harmoni sosial. Nilai-nilai ini menuntun seseorang agar tidak menonjolkan ego, tidak serakah, serta mampu menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat," jelasnya pada Rabu (28/1/2026).

Namun, Eko mengajak pendengar untuk melihat lebih dalam: apakah pitutur luhur selalu bersifat hitam-putih? Menurutnya, manusia pada dasarnya memiliki sisi baik dan buruk. Pitutur luhur bukan sekadar aturan kaku, melainkan mekanisme budaya untuk menyeimbangkan dorongan-dorongan tersebut agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam kajian budaya Jawa, terdapat tiga unsur penting yang menjadi fondasi pengendali perilaku, yakni wedi (rasa takut terhadap sanksi), isin (rasa malu jika diketahui berbuat salah), dan sungkan (rasa tidak enak hati terhadap orang lain). Ketiga variabel ini, menurut Eko, berfungsi sebagai rem sosial. Jika ketiganya hilang dalam diri seseorang, maka batas moral menjadi kabur.

"sehingga pelanggaran mudah terjadi, mulai dari kebohongan kecil hingga perilaku besar seperti korupsi atau perselingkuhan," katanya.

Ia menambahkan bahwa banyak perilaku menyimpang hari ini tidak muncul begitu saja, melainkan berakar pada pudarnya transmisi nilai budaya tersebut. Generasi muda tidak lagi mendapatkan penanaman wedi, isin, dan sungkan secara kuat, baik dari keluarga, lingkungan, maupun pendidikan.

Fenomena ini semakin diperparah oleh hadirnya era digital dan dunia maya. Media sosial membuka ruang ekspresi tanpa batas, namun sering kali tanpa disertai etika.

Tata krama yang dulu dijaga dalam pergaulan nyata, kini memudar dalam interaksi daring. Komentar kasar, ujaran kebencian, hingga pembenaran perilaku tidak etis menjadi pemandangan umum.

Melalui program ini, Eko mengajak masyarakat untuk kembali melakukan literasi budaya, yakni memahami kembali makna pitutur luhur bukan sebagai warisan masa lalu semata, tetapi sebagai perangkat hidup yang relevan menghadapi tantangan zaman. Literasi budaya bukan sekadar mengenal istilah Jawa, melainkan menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam keseharian: menghargai orang lain, menjaga ucapan, serta menimbang akibat sebelum bertindak.

Di akhir perbincangan, Eko menegaskan bahwa modernitas tidak seharusnya menghapus akar budaya. Justru di tengah dunia yang serba cepat dan terbuka, pitutur luhur Jawa dapat menjadi jangkar moral agar manusia tetap memiliki arah, batas, dan kesadaran sosial.

Program Pesona Budaya ini menjadi ruang refleksi bahwa kemajuan teknologi tanpa penguatan nilai akan menciptakan kekosongan etika. Sebaliknya, budaya yang hidup dan dipahami akan menjadikan masyarakat tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga matang secara moral.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....