Malang Makin Dingin, BMKG: Puncak Bediding Terjadi Agustus
- 09 Jul 2026 12:55 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya dalam beberapa pekan terakhir mulai dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Malang Raya. Kondisi ini terutama terasa pada malam hingga menjelang pagi hari, bahkan membuat sebagian warga harus mengenakan pakaian yang lebih tebal saat beraktivitas.
Dalam istilah masyarakat Jawa, kondisi tersebut dikenal sebagai fenomena bediding, yakni penurunan suhu udara yang terjadi pada musim kemarau sehingga udara terasa lebih dingin dibandingkan hari-hari biasa. Meski kerap dianggap sebagai cuaca ekstrem, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur memastikan bahwa fenomena ini merupakan siklus tahunan yang normal terjadi di Indonesia.
Forecaster On Duty BMKG Jawa Timur, Maksum, menjelaskan bahwa secara meteorologis fenomena bediding dipengaruhi oleh embusan angin Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin.
| Baca juga: BMKG: Malang Raya Masuki Musim Kemarau |
"Selain faktor Monsun Australia, minimnya tutupan awan pada musim kemarau membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer saat malam hari. Kelembapan udara yang rendah juga menyebabkan udara terasa lebih sejuk dan tidak pengap," jelas Maksum saat diwawancarai oleh RRI Pro2 Malang Program Spada melalui sambungan telepon dalam informasi laporan prakiraan cuaca Malang Raya, kamis(09/07/2026).
Ia menambahkan, langit yang cenderung cerah pada musim kemarau membuat proses pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih cepat. Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan saat musim hujan.
Berdasarkan analisis BMKG, fenomena bediding di wilayah Malang Raya telah mulai terjadi sejak Juni dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga September 2026. Adapun suhu terendah diprediksi terjadi pada Agustus, seiring dengan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Timur.
"Suhu paling rendah atau puncak fenomena bediding biasanya terjadi pada Agustus karena bertepatan dengan puncak musim kemarau," tambahnya.
Selain menyebabkan udara terasa lebih dingin, musim kemarau juga identik dengan kelembapan udara yang rendah sehingga kulit dan saluran pernapasan lebih mudah mengalami iritasi. Di sisi lain, rasa haus biasanya berkurang saat cuaca dingin sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa tubuh tetap membutuhkan asupan cairan yang cukup.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan setiap hari, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, beristirahat yang cukup, serta mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam atau dini hari. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan juga diimbau lebih waspada terhadap perubahan suhu selama fenomena bediding berlangsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....