Fenomena Curhat Digital dan Tantangan Kesehatan Mental
- 06 Jan 2026 06:37 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai pendamping emosional kian marak di Indonesia. Survei Kaspersky mengungkap sebanyak 31 persen pengguna AI di Indonesia mempertimbangkan berbicara dengan AI ketika sedang sedih, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 29 persen.
Menurut Kaspersky, tren penggunaan AI sebagai tempat mencurahkan perasaan ini paling banyak dilakukan oleh Generasi Z dan milenial. Kedua generasi tersebut dinilai lebih terbiasa menjadikan teknologi digital, termasuk AI, sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Generasi Z dan millennial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35 persen responden memilih opsi ini,” ujar Kaspersky dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/1/2026), seperti dikutip dari CNNIndonesia.com.
Sementara itu, minat untuk menjadikan AI sebagai teman berbicara cenderung lebih rendah pada kelompok usia yang lebih tua. Survei yang sama mencatat hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI saat merasa kesal atau tertekan.
Kemampuan AI merespons secara personal membuat teknologi ini kerap terasa seperti sahabat dekat. AI dinilai mampu memberikan saran, kalimat penyemangat, serta respons cepat tanpa menghakimi, sehingga menjadi alternatif bagi sebagian orang yang enggan berbagi cerita secara langsung dengan sesama manusia.
Namun demikian, penggunaan AI sebagai tempat curhat juga menyimpan sejumlah risiko. Meskipun komunikasi dengan AI tampak personal dan privat, sebagian besar chatbot dikembangkan oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan tersendiri terkait pengumpulan dan pemrosesan data pengguna.
Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, Vladislav Tushkanov, mengingatkan agar masyarakat bersikap bijak dalam memanfaatkan AI untuk kebutuhan emosional.
“Penting untuk diingat bahwa mereka belajar memberikan jawaban dari data, yang sebagian besar bersumber dari internet. Artinya, AI rentan mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya sikap kritis dalam menerima saran dari AI. “Sangat disarankan untuk merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba untuk menghindari berbagi informasi secara berlebihan,” tambahnya.
Sebagai media publik, RRI memandang fenomena ini sebagai bagian dari tantangan literasi digital di era kecerdasan buatan. Edukasi mengenai batasan teknologi menjadi penting agar pemanfaatan AI tetap memberi manfaat, tanpa menggantikan peran interaksi manusia dan dukungan profesional dalam menjaga kesehatan mental.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....