Kesadaran Warga Jadi Kunci Menjaga Sungai dari Sampah

  • 06 Okt 2026 08:55 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Kesadaran warga menjadi kunci dalam menjaga sungai dari sampah dan kerusakan lingkungan. Persoalan sungai tidak hanya berkaitan dengan kondisi air, tetapi juga dipengaruhi kebiasaan masyarakat di sekitar sungai, mulai dari membuang sampah hingga pemanfaatan kawasan sempadan.

Aktivis KALIKU, Sugeng, mengatakan sampah menjadi salah satu persoalan yang paling sering ditemukan saat komunitas melakukan pemantauan dan susur sungai. “Banyak TPS ilegal dibuang di lereng sungai,” ujarnya. Selain sampah, KALIKU juga menemukan persoalan alih fungsi kawasan sempadan yang dinilai dapat memengaruhi fungsi perlindungan sungai.

Menurut Sugeng, perubahan kondisi sungai tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia. “Sungai tidak ada masalah, manusianya yang bermasalah,” katanya. Ia menyoroti pembangunan perumahan yang berada terlalu dekat dengan bibir sungai serta kebiasaan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan. “Sungai menjadi tempat terakhir untuk buang sampah. Kemasan yang beredar yang sekali pakai, plastik,” lanjutnya dalam dialog bersama RRI Malang, Selasa (6/10/2026).

Penyuluh Kehutanan CDK Wilayah Malang, Lindriawati, SP, juga menemukan persoalan serupa di lapangan. “Banyak warga membuang popok bayi ke sungai,” ujarnya. Menurut Lindriawati, kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat. Sebab, kegiatan penanaman dan pemulihan lingkungan akan sulit bertahan apabila masyarakat kembali melakukan aktivitas yang merusak kawasan.

Reni Meilani, Penyuluh Kehutanan CDK Wilayah Malang, mengatakan perubahan pola pikir masyarakat menjadi hal yang perlu diperhatikan. “Pola pikir SDM, perlu ada rasa sungkan untuk warga,” katanya. Menurut Reni, menjaga sungai juga membutuhkan keterlibatan lintas sektor, termasuk pemerintah dan instansi terkait seperti PUPR dan DLH.

Perubahan kebiasaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga, termasuk memilah dan mendaur ulang sampah. Lindriawati mendorong pendidikan lingkungan diberikan sejak anak-anak. “Ajarkan anak-anak minimal dari keluarga. Pasti merembet ke sekolah,” ujarnya. Sugeng juga mendorong dunia pendidikan ikut memikirkan konservasi, antara lain melalui edukasi pemanfaatan air hujan dan pengelolaan air buangan rumah tangga secara lebih bijak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....