Pendekatan Agama dan Tradisi guna Menjaga Kelestarian Lingkungan
- 18 Sep 2026 11:13 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Upaya menggugah kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan melalui edukasi, tetapi juga ditempuh dengan pendekatan kultural dan pemahaman nilai-nilai keagamaan.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Dialog Kentongan Pro 1 RRI Malang. Penggiat lingkungan menilai, nilai agama dan tradisi lokal dapat menjadi instrumen penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Penggiat Lingkungan dan Narasumber Nasional, Sulaiman Sulang, S.S., M.A.P., mengatakan pemanfaatan nilai-nilai keagamaan dapat memberikan dorongan moral dan spiritual kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.
“Pemanfaatan fatwa keagamaan terbukti efektif memberikan efek spiritual serta moral yang cukup kuat bagi warga masyarakat di pedesaan. Majelis Ulama Indonesia memfatwakan membuang sampah sembarangan haram hukumnya. Fatwa itu tercantum dalam Fatwa MUI No. 6/2025 yang mengharamkan membuang sampah sembarangan, khususnya di sungai, danau, dan laut,” ujar Sulaiman Sulang dalam Dialog Kentongan Pro 1 RRI Malang, Jumat (17/9/2026).
Menurut Sulaiman, prinsip ajaran agama yang mengajarkan larangan merusak alam dapat digunakan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial. Pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dapat disampaikan melalui berbagai kegiatan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Edukasi tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui majelis taklim maupun kegiatan keagamaan rutin di tingkat masyarakat. Dengan pendekatan yang santun dan sesuai dengan nilai yang telah diyakini masyarakat, pesan mengenai kebersihan lingkungan diharapkan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain pendekatan keagamaan, nilai-nilai tradisi lokal juga dinilai memiliki peran dalam membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kearifan lokal dapat dihidupkan kembali untuk memperkuat hubungan emosional masyarakat dengan alam di sekitarnya.
“Selain pendekatan agama, nilai tradisi lokal juga dihidupkan kembali untuk memperkuat ikatan emosional masyarakat terhadap alam sekitarnya. Kegiatan penanaman pohon dikemas menarik melalui prosesi adat yang menghormati warisan leluhur pembuka kawasan permukiman desa tersebut,” katanya.
Menurutnya, tradisi budaya dapat menjadi sarana untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan menjaga lingkungan. Semangat gotong royong yang terkandung dalam tradisi lokal juga mendorong masyarakat berpartisipasi secara sukarela tanpa merasa mendapatkan tekanan.
Penggabungan nilai religius dan adat lokal dinilai memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat desa. Pendekatan tersebut membuat kegiatan pelestarian lingkungan tidak sekadar menjadi program sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.
Di sisi lain, upaya menjaga kebersihan lingkungan juga mulai diarahkan pada pengelolaan sampah berbasis komunitas. Masyarakat didorong untuk tidak hanya mengurangi sampah yang dibuang sembarangan, tetapi juga memilah dan mengolah sampah agar memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
“Inovasi pengolahan sampah berbasis komunitas juga mulai diterapkan secara mandiri guna mendukung terciptanya sistem ekonomi sirkular desa. Partisipasi aktif kaum muda dan tokoh masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan gerakan perubahan perilaku ramah lingkungan ini,” imbuhnya.
Gerakan edukasi lingkungan tersebut mulai menunjukkan dampak positif. Jumlah timbulan sampah liar di sejumlah titik sepanjang jalan desa dilaporkan mengalami penurunan. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah rumah tangga juga mulai berkembang menjadi kebiasaan baru.
Pengelolaan sampah yang dilakukan secara bersama-sama bahkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan lingkungan dapat dipilah dan dikelola sehingga memiliki nilai tambah.
Melalui pendekatan agama, budaya, serta pemberdayaan masyarakat, upaya menjaga kebersihan lingkungan diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Keterlibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, komunitas, dan warga menjadi bagian penting dalam membangun perilaku yang lebih ramah terhadap lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....