Inklusi Disabilitas Dimulai dari Penerimaan dan Kesempatan

  • 21 Agt 2026 17:09 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Inklusi bagi anak dengan disabilitas dimulai dari penerimaan keluarga dan pemberian kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pengalaman Ibu Dewi Kristina dalam mendampingi sang anak, Fajar Arofi, menunjukkan bahwa penerimaan tidak cukup hanya dengan memahami kondisi anak, tetapi juga dengan memberikan ruang untuk belajar, bersosialisasi, mengembangkan minat, dan menentukan masa depannya sendiri. Lingkungan yang inklusif membuat anak tidak terus-menerus dilihat dari keterbatasannya, melainkan dari potensi yang dapat dikembangkan.

Perjalanan Ibu Dewi sebagai orangtua anak difabel dalam mendampingi Fajar dimulai ketika pada usia lima tahun ia belum dapat berbicara dan kemudian diketahui mengalami ADHD. Kondisi tersebut sempat membuat keluarganya merasa gugup sekaligus khawatir menghadapi tanggapan lingkungan. Namun, keluarga memilih menjalani proses tersebut bersama dengan memberikan pendampingan dan terapi. Perlahan, perkembangan Fajar mulai terlihat. Saat memasuki taman kanak-kanak, ia sudah mampu berbicara dan membaca. “Nerves, kaget, tanggapan orang-orang bagaimana, tapi dijalani mau bersama-sama,” ujar Dewi kepada RRI Malang pada Senin (10/8/2026).

Bagi keluarga, perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa anak dengan disabilitas membutuhkan dukungan dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Fajar disebut sebagai anak yang tidak banyak membuat masalah sejak kecil dan memiliki kepercayaan diri yang baik. Potensi tersebut kemudian terus didorong melalui berbagai aktivitas yang sesuai dengan minatnya. Pendekatan keluarga menjadi bagian penting dari inklusi karena proses penerimaan dan pengembangan anak pertama kali berlangsung di lingkungan terdekat.

Tantangan sempat muncul ketika Fajar duduk di bangku SMP dan mengalami perundungan. Perlakuan tersebut membuat Fajar marah dan bereaksi secara emosional. Keluarga kemudian memberikan pemahaman agar ia tidak mudah terpancing dan tetap mampu mengendalikan diri. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menciptakan lingkungan inklusif juga berarti membangun ruang yang aman dari stigma dan perundungan. Anak dengan disabilitas perlu mendapatkan perlindungan, tetapi pada saat yang sama juga perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi lingkungan sosialnya.

Menurut Dewi, penerimaan dan kesempatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun inklusi. Fajar sendiri memiliki ketertarikan untuk bersosialisasi dan berkumpul dengan banyak orang, selain memiliki hobi menggambar, membuat sketsa, dan menggambar karakter Marvel. Keluarga berusaha memberikan sarana agar minat tersebut dapat terus berkembang. Dengan demikian, inklusi tidak berhenti pada menerima keberadaan seseorang, tetapi juga memastikan mereka memiliki ruang untuk berpartisipasi dan mengembangkan potensi.

Dewi berharap para orang tua tidak terlalu takut menghadapi masa depan anak dengan disabilitas. Menurutnya, orang tua perlu menjalani proses sesuai kemampuan, memberikan sarana yang dibutuhkan, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang. “Bismillah, apa yang diusahakan insya Allah Tuhan kasih jalan. Maka jangan takut, jalani sesuai kemampuan kita, berikan sarana untuk anak. Hasilnya dipasrahkan saja,” kata Dewi. Pesan tersebut menegaskan bahwa inklusi dapat dimulai dari langkah sederhana: menerima, mendukung, dan memberikan kesempatan yang setara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....