Konsisten Pilah Sampah, Warga Mendapat Telur dan Minyak
- 14 Agt 2026 12:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Upaya membangun kebiasaan pengelolaan sampah dari sumber mulai menunjukkan hasil positif di Kampung MOZAIK RW 13 Kelurahan Simokerto, Kota Surabaya. Setelah pemantauan empat minggu sejak Juli hingga Agustus 2026, warga yang konsisten melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah dengan benar mendapatkan reward atau penghargaan pada Kamis, (13/8/2026).
Pemberian reward ini menjadi bentuk apresiasi kepada masyarakat yang telah menunjukkan konsistensi dalam menjalankan pemilahan sampah. Apresiasi tersebut juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi warga lainnya untuk mulai memilah dan mengelola sampah dari rumah serta menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan hanya ketika dilakukan pemantauan.
Gianik, Kader Surabaya Hebat (KSH) RW 13 Simokerto, menjelaskan bahwa proses pemantauan tidak hanya melihat apakah warga sudah memilah sampah, tetapi juga memastikan sampah yang telah dipilah dikelola melalui jalur yang tepat.
“Selama empat minggu kami bersama Satgas Kali Tebu Lestari rutin memantau dan mencatat pemilahan sampah warga. Kami melihat sudah banyak warga yang mulai tertib memilah menjadi organik, daur ulang, dan residu. Harapannya kebiasaan ini terus berjalan meskipun masa pemantauan dan pemberian reward sudah selesai, sehingga sampah yang dibuang ke TPS semakin sedikit,” jelas Gianik.
| Baca juga: Gerakan Belajar Zero Waste dari Rumah |
Pemantauan dilakukan untuk melihat kepatuhan masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga menjadi tiga jenis, yaitu sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah residu. Pencatatan kepatuhan dilakukan secara rutin oleh Kader Surabaya Hebat (KSH) bersama Satgas Kali Tebu Lestari dengan melihat langsung praktik pemilahan dan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
Tidak berhenti pada pemilahan, setiap jenis sampah lalu dikelola sesuai kategorinya. Sampah organik dimasukkan secara rutin ke fasilitas pengomposan yang tersedia di lingkungan, yaitu sumur kompos, tong komposter, dan Lahsamor. Sampah daur ulang seperti botol plastik, kardus, kertas, dan material bernilai lainnya dikumpulkan untuk disetorkan ke bank sampah, sedangkan sampah residu ditempatkan di tong sampah untuk selanjutnya diangkut.
Wati, salah satu warga RW 13 Simokerto, mengatakan bahwa pemilahan yang dilakukan secara rutin perlahan mulai menjadi kebiasaan dalam rumah tangga.
| Baca juga: Gerakan Belajar Zero Waste dari Rumah |
"Awalnya memang perlu membiasakan diri untuk memisahkan sampah, tapi lama-lama jadi kebiasaan. Sekarang kalau ada sampah organik langsung kami pisahkan untuk dimasukkan ke komposter, sementara botol, kardus, dan sampah yang masih bernilai dikumpulkan untuk bank sampah. Adanya reward ini membuat kami merasa usaha kecil yang dilakukan setiap hari ternyata dihargai,” ujar Wati.
Kepatuhan masyarakat ini memberikan dampak langsung terhadap pengurangan timbulan sampah. Sampah organik yang sebelumnya ikut dibuang kini dapat diselesaikan di lingkungan melalui pengomposan, sementara sampah yang masih memiliki nilai dapat kembali masuk ke rantai daur ulang melalui bank sampah. Dengan pola tersebut, hanya sampah residu yang benar-benar perlu diangkut.
Praktik yang mulai berjalan di RW 13 Simokerto menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menekan timbulan sampah yang dikirim ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) hingga Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan dari sumbernya, semakin kecil pula beban pengangkutan dan pengolahan sampah di tingkat kota.
Selain mengurangi beban TPS dan TPA, pengelolaan sampah dari sumber juga penting untuk mencegah sampah terbuang ke saluran air dan sungai. Kolaborasi antara warga, KSH, dan Satgas Kali Tebu Lestari diharapkan terus diperkuat agar pemilahan sampah menjadi budaya bersama dan dapat mendukung terciptanya lingkungan permukiman yang lebih bersih serta sungai yang terbebas dari sampah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....