Foto Produk Jadi Strategi Branding, Bukan Sekadar Pajangan
- 12 Agt 2026 15:57 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Foto produk kini tidak lagi sekadar menjadi pelengkap promosi, tetapi dapat menjadi bagian penting dalam membangun branding dan mendorong keputusan konsumen. Visual yang menarik dinilai mampu membuat calon pembeli berhenti menggulir layar, mengenali produk, hingga menumbuhkan kepercayaan sebelum melakukan transaksi.
Hal tersebut disampaikan Muhammad Abdul Ghofur, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang sekaligus pemilik Belahan Jiwa Newborn Photography dan Garnish Food Photography. Menurutnya, fotografi memiliki keterkaitan erat dengan ekonomi digital karena visual menjadi salah satu cara produk menyampaikan pesan kepada calon konsumen.
Ghofur menjelaskan, foto produk yang baik dapat membangun visual branding sehingga meningkatkan daya tarik dan kepercayaan terhadap suatu produk. Khususnya dalam pemasaran digital, konsumen kerap mendapatkan kesan pertama terhadap produk melalui gambar sebelum membaca informasi lainnya.
“Ketika visual branding-nya sudah bagus, engagement juga biasanya naik. Meningkatnya ketertarikan dan kepercayaan konsumen berpotensi memengaruhi keputusan mereka untuk membeli suatu produk," jelas Ghofur saat menjadi narasumber dialog Ekonomi Digital di RRI Malang, Senin (10/8/2026).
Menurut Ghofur, pelaku UMKM sebenarnya tidak selalu membutuhkan perangkat fotografi mahal untuk menghasilkan foto produk yang menarik. Kamera telepon seluler saat ini telah memiliki kemampuan yang cukup, selama pengguna memahami teknik dasar fotografi.
Ia menyebut pencahayaan, sudut pengambilan gambar, penempatan objek, dan komposisi menjadi sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan. Dengan penguasaan teknik tersebut, pelaku UMKM dapat mengoptimalkan perangkat yang sudah dimiliki tanpa harus langsung mengeluarkan biaya besar.
Ghofur mencontohkan pengalamannya saat memberikan pelatihan fotografi menggunakan smartphone kepada pelaku UMKM di Malang. Menurutnya, sejumlah peserta telah memiliki telepon seluler dengan kamera berkualitas tinggi, tetapi belum memahami cara memanfaatkannya untuk menghasilkan visual produk yang optimal.
"Selain kemampuan fotografi, pelaku UMKM juga perlu memahami target pasar sebelum menentukan konsep visual produknya. Karakter foto harus disesuaikan dengan konsumen yang ingin dituju agar produk memiliki posisi yang jelas di tengah persaingan," ungkapnya.
Ia mencontohkan produk jamu yang ingin menyasar konsumen anak muda dapat dikemas melalui visual yang menggambarkan gaya hidup mereka. Dengan konsep tersebut, foto tidak hanya menunjukkan bentuk produk, tetapi juga membangun gambaran mengenai pengalaman dan gaya hidup yang ditawarkan.
Ghofur juga menekankan pentingnya riset pasar sebelum melakukan branding melalui fotografi. Sebab, setiap platform digital memiliki karakter pengguna dan pasar berbeda sehingga strategi visual perlu disesuaikan dengan tempat produk tersebut dipasarkan.
"Persoalan lain yang sering dihadapi UMKM adalah menjalankan usaha tanpa konsep yang jelas karena sekadar mencoba. Kondisi ini bisa membuat promosi tidak konsisten sehingga produk sulit berkembang meskipun berbagai aspek administrasi usaha telah dipersiapkan," tuturnya.
Karena itu, Ghofur mendorong pelaku UMKM untuk membangun konsistensi dalam mengembangkan produknya. Ia meyakini setiap produk memiliki pasar masing-masing selama pelaku usaha mampu menemukan target konsumen yang tepat dan terus menjaga kualitas serta komunikasinya.
Menurutnya, branding tidak harus selalu dilakukan dengan biaya besar karena pelaku usaha dapat membangunnya secara bertahap. Biaya yang lebih besar pada dasarnya dapat digunakan untuk mempercepat proses, sementara pelaku UMKM tetap dapat berkembang melalui kreativitas, pembelajaran, dan konsistensi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....