ECOTON Teliti Karakteristik Sampah Dukung Pengurangan Residu Berkelanjutan

  • 17 Jul 2026 07:21 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) memulai program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) melalui penelitian Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di RT 04/RW 03, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Surabaya, Kamis (16/07/2026). Penelitian ini bertujuan memetakan jumlah, komposisi, dan karakteristik sampah rumah tangga sebagai dasar penyusunan kebijakan pengurangan sampah yang lebih efektif dan tepat sasaran.

Sebanyak 50 rumah tangga dilibatkan sebagai responden dalam penelitian tersebut. Masing-masing diminta memilah sampah yang dihasilkan selama delapan hari berturut-turut agar tim peneliti dapat melihat pola timbulan sampah harian sekaligus mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan masyarakat.

Direktur Eksekutif ECOTON, Daru Setyorini, menjelaskan bahwa setiap rumah tangga diwajibkan memisahkan sampah ke dalam tiga kelompok utama, yakni sampah organik, sampah yang masih dapat didaur ulang, dan sampah residu. Setelah dikumpulkan, seluruh sampah kembali disortir oleh tim peneliti menjadi sekitar 40 kategori yang lebih rinci.

"Setelah dikumpulkan, sampah dari seluruh rumah akan kami sortir lagi menjadi sekitar 40 kategori. Dari proses itu kami bisa mengetahui secara detail komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, sehingga data yang diperoleh benar-benar dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan sampah," kata Daru.

Ia menjelaskan, penelitian selama delapan hari dilakukan untuk mengetahui fluktuasi volume dan karakteristik sampah setiap harinya. Dengan metode tersebut, tim dapat membandingkan timbulan sampah pada hari kerja maupun akhir pekan sehingga hasil penelitian lebih menggambarkan kondisi sebenarnya.

Menurut Daru, data karakteristik sampah menjadi informasi yang sangat penting bagi pemerintah sebelum menentukan strategi pengelolaan sampah. Tanpa data yang akurat, pembangunan fasilitas pengolahan maupun kebijakan pengurangan sampah berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

"Kalau sampah organik lebih banyak, berarti fasilitas pengolahan organik perlu diperkuat. Sebaliknya, kalau residunya lebih besar, berarti pemerintah perlu mendorong pembatasan penggunaan plastik sekali pakai dan memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya," ujarnya.

Ia menambahkan, sampah residu merupakan jenis sampah yang paling sulit ditangani karena umumnya tidak dapat didaur ulang. Beberapa di antaranya berupa kantong plastik yang kotor, kemasan sachet, styrofoam, serta popok sekali pakai. Seluruh jenis sampah tersebut pada akhirnya akan berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Daru mengingatkan bahwa tingginya volume sampah residu akan mempercepat penuhnya kapasitas TPA. Oleh karena itu, upaya pengurangan residu harus dimulai dari perubahan pola konsumsi masyarakat dengan mengurangi penggunaan produk sekali pakai.

"Banyak alternatif yang sebenarnya bisa dilakukan masyarakat. Popok sekali pakai dapat diganti dengan popok kain, kantong plastik diganti tas belanja yang bisa digunakan berulang kali, sedangkan botol dan gelas plastik dapat diganti menggunakan tumbler. Langkah sederhana seperti ini jika dilakukan secara luas akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan sampah," jelasnya.

Hingga hari pertama penelitian, ECOTON belum dapat menyimpulkan jenis sampah yang paling dominan karena pengumpulan data masih berlangsung. Setelah seluruh proses selesai, hasil penelitian akan diolah menjadi estimasi timbulan sampah mingguan, bulanan, hingga tahunan. Data tersebut selanjutnya akan disimulasikan pada tingkat kelurahan sebagai dasar perencanaan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Pada hari pertama penyortiran, tim mencatat total timbulan sampah dari 50 rumah tangga mencapai 60,325 kilogram, atau rata-rata sekitar 1,3 kilogram per rumah tangga per hari. Seluruh sampah kemudian dipilah ke dalam sekitar 40 kategori untuk mengetahui proporsi sampah organik, material yang masih dapat didaur ulang, serta sampah residu.

Pemilihan Kelurahan Simokerto sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. Kawasan ini berada di sekitar Kali Tebu, salah satu aliran sungai yang selama ini menjadi perhatian masyarakat karena dipenuhi sampah. Dalam beberapa hari terakhir, sedikitnya 27 ton sampah berhasil diangkat dari aliran sungai tersebut. Melalui penelitian AKSA, ECOTON berharap data yang diperoleh dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengurangan sampah dari sumbernya sehingga pencemaran sungai akibat sampah rumah tangga dapat ditekan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....