Rumah Perlu Menjadi Ruang Aman agar Anak Mau Bercerita

  • 03 Agt 2026 07:48 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Rumah tidak semestinya hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga ruang paling aman bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan persoalannya. Kehangatan komunikasi di dalam keluarga dinilai menjadi kunci agar anak tidak mencari pelarian di luar rumah ketika menghadapi masalah.

Pesan tersebut disampaikan dalam Dialog Asta Cita RRI Malang bertema Membangun Generasi Tangguh Lewat Berani Bercerita, Sabtu (1/8/2026). Narasumber Zenitha Kurnia Putri dan Diah AM menekankan bahwa orang tua perlu membangun hubungan yang hangat sebelum mengharapkan anak terbuka mengenai kehidupannya.

Zenitha mengatakan masih banyak orang tua yang tanpa sadar langsung menginterogasi anak sesaat setelah pulang sekolah. Padahal, kondisi fisik maupun emosional anak sering kali masih lelah sehingga belum siap menjawab berbagai pertanyaan.

"Jangan langsung bertanya bagaimana sekolahnya. Biarkan anak tenang dulu, makan dulu, lalu ajak mengobrol dengan pertanyaan yang ringan dan menyenangkan," ujar Zenitha.

Ia mencontohkan orang tua dapat memulai percakapan dengan menanyakan apakah hari itu menyenangkan, bermain dengan siapa, atau makanan apa yang dinikmati di sekolah. Cara sederhana tersebut membuat anak merasa dihargai sehingga lebih mudah membuka diri ketika memiliki persoalan.

Menurut Zenitha, rumah seharusnya menjadi tempat pulang secara emosional bagi seluruh anggota keluarga. Anak yang merasa diterima tanpa dihakimi akan lebih nyaman menyampaikan kesalahan maupun kegelisahan yang sedang dialami.

Diah AM menambahkan setiap keluarga perlu menyediakan waktu khusus untuk saling berbincang tanpa gangguan pekerjaan maupun gawai. Momen kebersamaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk saling mendengar pengalaman masing-masing selama menjalani aktivitas sehari-hari.

"Anak-anak perlu merasa bahwa rumah adalah milik bersama, tempat yang aman untuk menceritakan kesulitan tanpa takut dimarahi atau dihakimi," katanya.

Ia menjelaskan orang tua tidak harus selalu menanyakan pencapaian atau nilai akademik anak. Justru, pertanyaan mengenai tantangan, kesulitan, maupun kegagalan yang dialami anak dapat membantu mereka belajar menerima proses dan tidak takut menghadapi kegagalan.

Dalam dialog tersebut, kedua narasumber juga mengingatkan pentingnya memutus rantai pola asuh yang kurang sehat dari generasi sebelumnya. Pengalaman masa kecil yang penuh tekanan sebaiknya tidak diwariskan kepada anak-anak karena setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda.

Zenitha menilai orang tua masa kini memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar melalui berbagai sumber, termasuk kelas parenting maupun literatur digital. Kesediaan untuk terus belajar menjadi bekal penting agar pola komunikasi di dalam keluarga dapat berkembang mengikuti kebutuhan anak.

Melalui komunikasi yang hangat, empati, dan konsisten, rumah diharapkan benar-benar menjadi ruang aman bagi anak untuk bertumbuh. Ketika anak memiliki keberanian bercerita kepada orang tuanya sendiri, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan rasa percaya diri dan kesehatan mental yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....