Kolaborasi Jadi Kunci Menjaga Kelestarian Hutan Malang Raya

  • 24 Jul 2026 20:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kolaborasi antara pemerintah, organisasi konservasi, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga kelestarian hutan di Malang Raya. Meski memiliki pendekatan yang berbeda, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur melalui Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Malang dan ProFauna Indonesia memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga kawasan hutan tetap lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif di Pro 1 RRI Malang pada Rabu (22/7/2026) bertajuk "Beda Langkah, Satu Arah: Kolaborasi Jaga Hutan Malang."

Penyuluh Kehutanan CDK Wilayah Malang, Anggi, menjelaskan bahwa penyuluh kehutanan memiliki peran mendampingi kelompok tani hutan, mulai dari penguatan kelembagaan, pengelolaan kawasan, hingga pengembangan usaha masyarakat. Pendampingan tersebut mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 11 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kehutanan. Menurutnya, konsep perhutanan sosial menjadi peluang agar masyarakat tidak hanya menjaga kawasan hutan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

"Di Pulau Jawa sekarang masyarakat diberikan akses mengelola kawasan melalui perhutanan sosial. Tujuannya agar hutan tetap lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami juga berupaya menghubungkan hasil usaha masyarakat dengan pasar agar nilai ekonominya semakin baik," ujar Anggi.

Sementara itu, Founder dan Ekolog ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun organisasi lingkungan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor utama karena mereka hidup berdampingan langsung dengan kawasan hutan. ProFauna selama ini menjalankan berbagai program, mulai dari patroli hutan, pemantauan satwa liar, rehabilitasi kawasan, edukasi konservasi, hingga pengembangan wisata alam berbasis keanekaragaman hayati.

Rosek menjelaskan, kolaborasi di lapangan selama ini lebih banyak berjalan secara alami melalui komunikasi dan saling berbagi informasi ketika menemukan persoalan di kawasan hutan. Baginya, menjaga kelestarian hutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Banyak dinamika di balik berbagai aturan yang ada. Namun tujuan akhirnya sama, bagaimana hutan tetap lestari dan ekonomi masyarakat juga meningkat. Konservasi harus memperhatikan tiga pilar, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan," katanya.

Sebagai penutup, keduanya sepakat bahwa tantangan menjaga hutan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, akademisi, komunitas, hingga organisasi konservasi agar pengelolaan hutan berjalan efektif. Anggi pun mengajak masyarakat yang membutuhkan pendampingan untuk berkomunikasi dengan CDK Wilayah Malang, sedangkan Rosek berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat langsung dalam menjaga hutan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....