Rumah Tangga Dominasi Sumber Sampah Nasional

  • 10 Jun 2026 09:48 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar di Indonesia berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup yang menunjukkan dominasi signifikan dibanding sektor lainnya. Jumlah sampah dari aktivitas rumah tangga bahkan melampaui pasar, perkantoran, perhotelan, serta sektor komersial lainnya dalam komposisi nasional.

“Diperkirakan sekitar 60% sumber sampah berasal dari rumah tangga karena sebagian besar aktivitas manusia berlangsung di lingkungan rumah setiap hari. Peran ibu rumah tangga dinilai sangat penting karena menjadi pengelola utama aktivitas domestik yang berhubungan langsung dengan produksi sampah harian. Ketika ibu rumah tangga memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik, maka pengelolaan sampah di tingkat keluarga dapat berjalan lebih optimal. Bahkan muncul anggapan bahwa jika ibu rumah tangga berdaya, maka kelestarian lingkungan dapat lebih terjaga secara berkelanjutan,” ungkap DK. Wardhani - Founder Kelas Belajar Zero Waste (BZW) dan Inisiator SapaBumi (Sahabat pilah sampah Bumi Meranti), Sabtu (06/06/2026).

Berbagai upaya sederhana kini mulai dilakukan, seperti penggunaan popok kain sebagai alternatif untuk mengurangi limbah sekali pakai di rumah. Selain itu, banyak keluarga juga mulai membuat produk pembersih alami serta menerapkan prinsip pengolahan sisa konsumsi menjadi barang bermanfaat.

Sementara itu, sampah organik mendominasi komposisi rumah tangga dengan persentase hampir mencapai 50% dari total sisa konsumsi yang dihasilkan setiap hari. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan sampah plastik yang hanya sekitar 18% sehingga pengolahan organik menjadi prioritas penting.

“Dengan melakukan pengomposan di rumah, masyarakat sebenarnya dapat menyelesaikan hampir setengah dari permasalahan sampah secara mandiri. Langkah ini dapat mengurangi beban lingkungan sekaligus mempermudah pengelolaan jenis sampah lain seperti plastik dan kertas. namun, masih banyak masyarakat yang menganggap pengomposan sebagai sesuatu yang rumit dan kurang menarik untuk dilakukan. Padahal, proses tersebut merupakan bagian dari siklus alami yang dapat ditiru dengan pemahaman dan teknik yang tepat,” imbuhnya.

Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan menjadi kunci untuk mengubah pola pikir masyarakat agar lebih terbuka terhadap pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Dorongan dari berbagai pihak diharapkan mampu meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....