ECOTON Laksanakan Brand Audit Soroti Kemasan Sulit Daur Ulang
- 17 Jul 2026 07:21 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Melalui program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK), ECOTON melakukan penelitian Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di RT 04/RW 03, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Surabaya pada hari Kamis (16/7/2026). Dalam kegiatan ini puluhan warga diminta untuk memilah sampah untuk mendeteksi timbulan sampah serta dominasi sampah yang ada.
Selain mengukur timbulan sampah tersebut, ECOTON juga melakukan brand audit terhadap sampah kemasan. Melalui metode ini, setiap kemasan akan diidentifikasi untuk mengetahui produsen yang paling banyak menghasilkan sampah sulit didaur ulang.
Direktur Eksekutif ECOTON, Daru Setyorini menilai produsen memiliki tanggung jawab mengurangi sampah dari produknya. Salah satunya dengan mendesain kemasan sesuai isi produk agar tidak menghasilkan limbah berlebihan.
Ia pun juga menyoroti penggunaan kemasan multilayer seperti sachet yang sulit didaur ulang. Menurutnya, kemasan tersebut sebaiknya diganti menjadi kemasan single layer atau dikembangkan melalui sistem isi ulang (refill).
“Harapan kami setiap perusahaan memiliki layanan refill sehingga masyarakat tidak terus-menerus menghasilkan sampah kemasan,” ujarnya.
Praktisi Zero Waste ECOTON, Tonis Afrianto, menjelaskan seluruh sampah akan dipilah berdasar kategori dengan menggunakan sarung tangan. Proses penyortiran ini dimulai dari material yang dapat didaur ulang, kemudian dilanjutkan pada kelompok residu.
Menurutnya, hasil penyortiran akan menunjukkan pola konsumsi masyarakat. Jika botol plastik bening atau sachet menjadi sampah yang paling banyak ditemukan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai maupun penggunaan sistem refill dapat difokuskan pada jenis kemasan tersebut.
“Hasil penelitian ini akan menentukan bagaimana desain pengelolaan sampah ke depan,” kata Tonis.
Fasilitator Kelurahan Simokerto, Mujiatiningsih, mengatakan sosialisasi terkait AKSA ini telah dilakukan sebelum penelitian dimulai. Warga diminta bekerja sama memilah sampah dari rumah agar data yang diperoleh mencerminkan kondisi sebenarnya.
Menurutnya, sebagian warga sempat menolak karena merasa telah membayar iuran kebersihan sehingga tidak perlu lagi memilah sampah. Namun, setelah mendapat penjelasan mengenai tujuan penelitian, mayoritas warga akhirnya bersedia berpartisipasi.
“Sebenarnya pemilahan sampah sudah pernah dilakukan, tetapi tidak sedetail kegiatan ini,” ujar Yuli sapaan akrabnya.
Walau wilayah ini terdiri dari lima RT, sementara penelitian AKSA ini awalnya dipusatkan di RT 04. Pada hari pertama, sebanyak 46 rumah tangga telah berpartisipasi dari target 50 rumah tangga.
Hingga proses penyortiran hari pertama selesai, tim mencatat timbulan sampah mencapai 60,325 kilogram atau rata-rata sekitar 1,3 kilogram per rumah tangga per hari. Seluruh sampah kemudian dipilah ke dalam sekitar 40 kategori untuk mengetahui komposisi organik, material yang masih dapat didaur ulang, dan residu.
Penelitian dilakukan di Kelurahan Simokerto yang berada di kawasan Kali Tebu. Kawasan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat, karena alirannya dipenuhi sampah. Dalam beberapa hari terakhir, terangkat 27 ton sampah dari aliran sungai itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....