Malang Selatan Rawan Kekeringan, Sungai Bawah Tanah Diteliti
- 13 Mei 2026 12:28 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kawasan Malang Selatan masih menjadi wilayah paling rawan mengalami kekeringan saat musim kemarau. Kondisi geografis yang didominasi tanah kapur atau kawasan kars menyebabkan air hujan sulit tersimpan di permukaan tanah. Akibatnya, masyarakat di sejumlah wilayah seperti Donomulyo, Druju, hingga Sumberbening sering mengalami kesulitan memperoleh sumber air bersih ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Kepala Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Adi Susilo menjelaskan, wilayah kars sebenarnya memiliki potensi cadangan air cukup besar dalam bentuk sungai bawah tanah. Namun, aliran air tersebut berada di bawah lapisan batu kapur sehingga tidak mudah dimanfaatkan masyarakat tanpa penelitian dan eksplorasi lebih lanjut.
“Untuk wilayah kars atau tanah kapur sebenarnya ada sungai bawah tanah. Airnya mengalir, tetapi tidak bisa dipanen secara langsung. Karena itu perlu dilakukan eksplorasi agar diketahui arah aliran dan titik potensial sumber airnya,” ujarnya dalam dialog Malang Menyapa di RRI Malang, Selasa (12/5/2026).
Adi mencontohkan keberhasilan pemanfaatan sumber air bawah tanah yang pernah ditemukan di wilayah Druju. Menurutnya, sumur milik warga yang digali tepat di jalur aliran sungai bawah tanah mampu menghasilkan air dalam jumlah besar dan tidak pernah habis meski dipompa menggunakan mesin diesel. Penelitian serupa juga pernah dilakukan di wilayah Sumberbening dan Donomulyo.
Untuk mendeteksi keberadaan aliran air bawah tanah tersebut, pihaknya menggunakan teknologi Audio Frequency Magnetotelluric (ADMT). Teknologi ini memungkinkan peneliti memetakan arah aliran sungai bawah tanah hanya dari pengukuran di permukaan tanah. “Wilayah yang dekat sumur diukur, lalu dilacak ke arah mana aliran sungai bawah tanah itu bergerak. Dari situ bisa dipetakan potensi sumber air yang dapat dimanfaatkan masyarakat,” katanya.
Selain faktor geologi, Adi menilai alih fungsi lahan turut memperparah ancaman kekeringan di wilayah selatan Malang. Berkurangnya kawasan hutan membuat kemampuan tanah menyerap air semakin menurun sehingga air hujan langsung mengalir ke permukaan tanpa tersimpan menjadi cadangan air tanah. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan melalui penanaman pohon dan pelestarian daerah resapan air. “Kalau hutan berkurang, maka serapan air juga hilang. Karena itu masyarakat perlu ikut melakukan mitigasi secara mandiri, salah satunya dengan penanaman pohon dan menjaga kawasan resapan,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....