Pilah Sampah dari Rumah, Langkah Kecil Selamatkan Bumi

  • 14 Apr 2026 07:14 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Banyak orang belum benar-benar memahami ke mana sampah yang mereka buang setiap hari berakhir. Padahal, sampah tersebut tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus menumpuk dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan serius. Berangkat dari keresahan ini, Azelia Trifiana, seorang penggiat pilah sampah, hadir membawa solusi melalui gerakan Yuk Jaga Bumi yang ia dirikan untuk mengedukasi masyarakat agar mulai memilah sampah dari rumah.

Azelia mengungkapkan bahwa gerakan tersebut bermula pada tahun 2019, ketika ia secara mandiri menjadikan rumahnya sebagai titik pengumpulan sampah daur ulang. Warga sekitar dapat menyetorkan sampah pada waktu-waktu tertentu. Dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, upaya tersebut berhasil mengumpulkan ribuan sampah dari berbagai jenis. “Awalnya di tahun 2019, saya menjadikan rumah saya sebagai recycling point. Dalam waktu sekitar 1,5 tahun, terkumpul lebih dari 3.000 paket sampah, mulai dari kardus, kertas, botol plastik, kresek, hingga kaca,” ujar Azelia, Selasa (14/4/2026).

Ia menambahkan, latar belakang gerakan ini tidak lepas dari kekhawatirannya terhadap kondisi lingkungan di masa depan. Menurutnya, dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat. “Saya ingin bumi yang nanti ditinggali anak-anak kita tetap aman. Kita sudah mulai merasakan dampak global warming, seperti cuaca yang tidak menentu, bahkan daerah yang dulu tidak banjir sekarang jadi banjir,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa langkah kecil seperti memilah sampah dari rumah dapat menjadi kontribusi penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Meski membawa dampak positif, perjalanan Azelia dalam mengedukasi masyarakat tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stigma negatif hingga sulitnya mengubah kebiasaan orang-orang terdekat. “Banyak yang menganggap kegiatan ini justru menumpuk sampah dan bisa mendatangkan penyakit. Selain itu, edukasi ke lingkungan terdekat, bahkan ke keluarga sendiri, juga tidak mudah,” ungkapnya. Untuk memastikan pengelolaan tetap berjalan baik, sampah yang terkumpul kemudian diambil oleh penyedia layanan pengelolaan sampah atau disalurkan ke bank sampah secara berkala.

Dalam upaya mengajak masyarakat memulai kebiasaan baik ini, Azelia membagikan langkah sederhana yang dapat diterapkan di rumah. Ia menyarankan agar setiap rumah tangga mulai dengan menyediakan tiga wadah terpisah untuk jenis sampah yang berbeda. “Langkah paling sederhana adalah menyiapkan tiga kardus di rumah: satu untuk kertas dan kardus, satu untuk botol kaca, dan satu lagi untuk plastik seperti kresek,” tuturnya. Dengan cara ini, masyarakat dapat mulai membangun kebiasaan memilah sampah sebelum akhirnya disalurkan untuk didaur ulang.

Azelia juga menilai bahwa kesadaran memilah sampah di Indonesia mulai tumbuh, terutama di kota-kota besar, meski belum merata. Ia berharap ke depan akan ada sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, seperti di negara maju yang sudah menerapkan pemilahan sejak dari sumbernya. “Harapannya Indonesia bisa seperti di luar negeri, ada jadwal pengambilan sampah sesuai kategorinya. Jadi, sampah tidak hanya dipindahkan ke TPA, tapi bisa diolah kembali dan punya nilai guna setelah didaur ulang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....