MBG Kota Malang Kembali Jalan Pasca Libur
- 10 Jan 2026 09:02 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang kembali berjalan sejak 8 Januari 2026 setelah sempat libur selama masa Natal dan Tahun Baru. Program ini menjadi salah satu yang paling awal berjalan di Malang Raya, dimulai sejak Februari 2025 di Bululawang, dan kini terus diperluas ke berbagai wilayah, termasuk pengiriman perdana SPPG di kawasan Sawojajar, Klojen, yang dijadwalkan mulai Senin depan.
Pengelola Mitra MBG Ocean Garden, Firman Ferdiansyah, dalam Dialog Asta Cita di Pro 1 RRI Malang mengatakan selama masa libur Nataru, distribusi makanan sebenarnya tetap dilakukan ke sejumlah sekolah, namun dengan skema khusus.
“Saat libur Nataru kami tetap mengirimkan ke sekolah, tapi harus ada persetujuan. Bentuknya paketan makanan kering, siswa tinggal ambil, dalam sehari bisa empat paket berisi snack, susu, roti, buah, telur rebus, makanan yang awet,” katanya, Sabtu (10/1/2026)
Firman menjelaskan, sejak tanggal 8 Januari pengiriman kembali dilakukan secara normal dengan menu makanan basah dan segar. Saat ini, satu SPPG rata-rata melayani maksimal 2.500 siswa, dan bisa mencapai 3.000 siswa jika sudah memiliki sertifikasi chef.
“Contohnya di Klojen itu sekarang di angka 2.479 siswa, belum termasuk B3 seperti bumil, busui, dan balita yang masih proses pendataan di kecamatan,” jelasnya.
Ia mengakui, tantangan terbesar dalam operasional MBG saat ini adalah pada rantai pasok bahan baku. Dengan semakin banyaknya SPPG yang beroperasi, pasar induk kerap kewalahan memenuhi kebutuhan distribusi. Karena itu, Ocean Garden melakukan pengawalan ketat terhadap kualitas bahan makanan.
“Kami ini sudah lama di bidang restoran, jadi bahan baku harus sama standarnya dengan restoran. Sayur dikirim jam 5 sore, ikan jam 7 malam, masak mulai jam 12 malam, packing jam 3 sampai 4 pagi, dan distribusi jam 7 pagi,” jelasnya.
Dalam satu hari, distribusi dilakukan dalam tiga kloter. Sekolah dasar dikirim pukul 08.00 WIB, SMP dan SMA pukul 10.00 WIB, dan untuk dewasa pukul 12.00 WIB. Satu SPPG bisa melayani hingga 15 sekolah.
Firman juga menuturkan, setiap SPPG baru tidak diperkenankan langsung membuka layanan dalam jumlah besar.
“Biasanya dua minggu pertama hanya 500 sampai 1.000 porsi dulu, supaya operasionalnya stabil,” katanya.
Saat ini, menurutnya, keberadaan banyak SPPG justru membawa dampak positif karena ada forum evaluasi bersama, terutama dalam hal penentuan menu. Kepala SPPI yang ditunjuk BGN Pusat, termasuk ahli gizi, berperan penting dalam menyesuaikan kebutuhan gizi anak sesuai jenjang usia, mulai PAUD, SD, SMP hingga SMA.
“Banyak yang minta menu kekinian, tapi tidak dipikirkan kandungan gizinya. Di sini peran ahli gizi sangat penting untuk menata nasi, protein, sayur, susu, dan buah sesuai kebutuhan anak,” jelasnya.
Firman menyebut, selama hampir setahun program ini berjalan, pro dan kontra pasti ada. Namun secara umum, respons masyarakat sangat positif.
“Saya mengalami sendiri sebagai pengelola, justru lebih banyak ucapan terima kasih, terutama kepada pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, meskipun tantangannya juga tidak sedikit,” katanya.
Program MBG juga dinilai memberi dampak ekonomi lokal. Setiap SPPG rata-rata menyerap 47 hingga 50 pekerja dari wilayah sekitar, serta melibatkan UMKM dan petani. Namun, ia berharap pemerintah daerah bisa ikut membantu menjamin ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan terjangkau.
“Sekarang ini susu misalnya, permintaannya tinggi, tapi suplai agak langka dan harganya naik. Harapannya Pemkot bisa berkolaborasi supaya bahan baku tetap tersedia dan harganya terjangkau,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....