Faktor Psikologis, Penyebab Bullying di Kalangan Remaja

  • 19 Okt 2023 20:43 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Belakangan ini banyak kasus bullying atau perundungan yang terjadi di kalangan remaja tak terkecuali di usia anak Sekolah Dasar (SD). Bahkan aksi tersebut viral di media sosial.

Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Pelaku biasanya mencuri-curi kesempatan dalam melakukan aksinya dan bermaksud membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terganggu.

Penindasan secara fisik maupun verbal, seperti mengejek dengan kata-kata kotor, memukul, mengancam, menghasut, dan merampas yang dilakukan oleh satu orang atau lebih kepada korban juga merupakan bullying. Bullyingjuga bisa berupa hate speech (ujaran kebencian) yakni tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lainnya.

Seorang psikolog Bali, Ni Nyoman Ari Indra Dewi, M.Psi. saat mengisi dialog Pos Jaga, Kamis, belum lama ini mengatakan, masa remaja merupakan fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa, artinya di fase ini anak-anak mengalami banyak perubahan dalam diri mereka mulai dari fisik, mental hingga perilakunya. Alasan di balik kasus bullying cukup marak terjadi pada usia remaja seperti kurangnya kemampuan dalam mengontrol perilaku, ketidakmampuan mengelola emosi hingga akhirnya memicu hasrat untuk balas dendam demi bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Para ahli menyebutkan bahwa kasus bullying justru paling sering terjadi di kalangan remaja. Hal tersebut dapat dipicu oleh banyak faktor, terutama faktor psikologis yang dialami anak di masa remaja,” ujar Ari.

Ari menyebutkan, ada beberapa hal yang menjadi penyebab kasus bullying pada usia remaja. Selain karena ingin mencari kekuasaan, pelaku bullying juga ingin mendapat kepopuleran, sebagai bentuk balas dendam, adanya masalah keluarga, perasaan kesepian, kurangnya rasa toleransi dan takut tidak akan diterima oleh lingkungan.

Terkadang para remaja melakukan aksi bullying hanya karena faktor ikut-ikutan, lagi trend agar diterima dilingkungan sekitar. Kalau tidak mengikuti kemauan si ketua geng, bisa jadi ada rasa ketakutan bahwa dirinyalah yang akan menjadi korban intimidasi selanjutnya,” ungkap Ari.

Psikolog yang juga dosen Program Studi Psikologi Universitas Dhyana Pura ini menegaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi bully di kalangan remaja. Remaja diharapkan lebih selektif memilih teman, berani membuka atau memperbaiki komunikasi, baik ke orang tua maupun guru yang ada di sekolah, berani menasihati pelaku bullying atau laporkan ke orang dewasa, berkaca pada diri sendiri dan introspeksi diri sebagai korban bullying, fokuskan diri kepada orang-orang yang menyayangi kita, jangan terfokus pada apa yang di katakan orang lain tentang keburukan kita dan berpikir sebelum bertindak, pikirkan apa akibatnya jika membully teman.

“Apakah teman akan berubah menjadi pendiam, tidak berani sekolah, atau bahkan melakukan hal ekstrem seperti melukai diri sendiri, bahkan sampai bunuh diri, makanya berpikirlah dahulu sebelum melakukan itu ke orang lain,” katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....