Menjaga Mental Sehat untuk Produktivitas dan Kebahagiaan

  • 05 Des 2025 12:46 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Isu kesehatan mental belakangan ini semakin sering dibicarakan dan bahkan memicu sebagian orang melakukan swadiagnosis tanpa berkonsultasi kepada tenaga ahli. Padahal untuk masalah mental, kita tidak boleh menduga dan mendiagnosis sendiri, tanpa adanya konsultasi ke psikiater atau dokter.

Hal itu disampaikan Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kaltim, Elda Trialisa Putri, kepada RRI. Dalam dialognya bersama Pro4 Samarinda, Elda menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai kunci produktivitas dan kebahagiaan.

Menurutnya, berkurangnya fokus dan menurunnya produktivitas sering kali merupakan tanda awal adanya tekanan mental. Ia menjelaskan, seseorang bisa sulit tidur karena pikirannya terus bekerja memikirkan tugas yang menumpuk.

Baca juga: Psikolog: Mental Sehat Kunci Produktivitas dan Kebahagiaan

“Untuk tetap produktif di tengah tekanan, langkah paling dasar adalah mengenali sumber stres. Kita perlu tahu alasannya apa, apakah faktor lingkungan kerja, situasi rumah, atau beban pekerjaan,” ujar Elda.

Ia menyarankan teknik sederhana seperti relaksasi napas 4-7-8, relaksasi otot progresif, meditasi, zikir, mindfulness, hingga grounding untuk meredakan stres sementara. Ia juga menambahkan, pentingnya pola pikir bertumbuh agar seseorang dapat berfokus pada solusi. “Jangan hanya berhenti di masalahnya. Ketika tidak bisa A, cari cara lain, dan jangan ragu meminta bantuan,” katanya.

Selain itu, membangun rutinitas sehat juga menjadi faktor utama menjaga kestabilan mental. Pola makan teratur, tidur cukup, dan olahraga dapat membantu tubuh dan pikiran lebih seimbang. Jika tekanan sudah mengganggu fungsi harian atau bahkan hubungan sosial, konsultasi dengan profesional menjadi langkah yang perlu ditempuh. “Kalau sudah buntu, cerita ke mana pun tidak ada solusi, maka perlu ke tenaga profesional,” ucapnya.

Baca juga: Tanda Menurunnya Produktivitas Akibat Gangguan Mental

Elda juga menekankan, kebahagiaan bersifat subjektif, namun kesehatan mental memegang peranan besar dalam menciptakannya. Ia menyebut, hubungan sosial yang baik, pencapaian pribadi, serta keluarga yang harmonis merupakan sumber kebahagiaan. “Ketika kesehatan mental tidak baik, kita gampang berprasangka dan jadi tidak nyaman dalam hubungan sosial,” ujarnya.

Peran lingkungan dan keluarga, menurut Elda, sangat besar dalam menjaga stabilitas mental seseorang. Ia menekankan pentingnya membangun batasan sehat antara pekerjaan dan urusan rumah. Dukungan lingkungan dan rasa aman di rumah menjadi fondasi yang membantu seseorang tetap produktif.

Menanggapi pernyataan bahwa banyak orang sukses tetapi tidak merasa bahagia, Elda menyebut hal itu sangat mungkin terjadi dan berkaitan erat dengan kondisi mental. Ia menegaskan, keberhasilan tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan batin. Faktor tekanan, kurangnya dukungan sosial, atau kegagalan menemukan makna hidup dapat membuat seseorang merasa tidak bahagia meski meraih capaian besar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....