Psikolog: Mental Sehat Kunci Produktivitas dan Kebahagiaan

  • 05 Des 2025 08:04 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Mental yang sehat merupakan kunci produktivitas dan kebahagiaan. Ungkapan ini dinilai sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. hal itu disampaikan Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kalimantan Timur, Elda Trialisa Putri, kepada RRI beberapa waktu lalu.

Menurutnya, mental sehat adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan tetap produktif dalam kesehariannya. Sementara kondisi mental yang terganggu dapat memengaruhi aktivitas harian seseorang.

“Adaptasi, pengelolaan emosi, dan kemampuan menyelesaikan masalah merupakan indikator penting mental sehat. Jika mental terganggu, produktivitas menurun, aktivitas terhambat, dan kita bahkan kesulitan menjalani rutinitas,” ujar Elda.

Ia menilai, tekanan psikologis atau stres menjadi faktor yang paling sering memengaruhi kualitas hidup. Elda juga memaparkan, stres terbagi dua, yaitu stres positif (eustress) dan stres negatif (distress).

“Saat seseorang menghadapi tekanan, tetapi tetap berusaha menyelesaikan masalah, itu termasuk stres positif yang mendorong produktivitas. Sebaliknya, stres negatif membuat seseorang menyerah, mudah marah, menangis, atau menjauhi aktivitas yang harus dilakukan,” katanya.

Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental juga menjadi perhatian. Elda menyebut, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya atensi terhadap isu psikologis. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa diagnosis tetap harus dilakukan oleh profesional dan tidak cukup hanya dari konten media sosial.

“Sekarang banyak remaja yang datang sendiri ke psikolog karena merasa butuh bantuan. Itu tanda positif bahwa mereka mulai peka terhadap kondisi mentalnya,” ucapnya.

Elda mengakui bahwa sebagian masyarakat, terutama orang tua, masih menganggap pergi ke psikolog sebagai hal tabu. Ia menilai, keterbukaan orang tua menjadi faktor penting dalam mendukung kesehatan mental anak. “Kadang anak butuh sudut pandang yang berbeda, bukan hanya dari orang tua. Karena itu, ke psikolog bukan sesuatu yang harus ditakuti,” ujar Elda.

Ia menekankan, dukungan keluarga dapat membantu anak lebih percaya diri meminta pertolongan yang tepat. Lebih lanjut, ia mencontohkan banyak kasus di mana anak usia sekolah mulai SD hingga SMA, mulai meminta pendampingan psikolog karena merasa stres atau kewalahan menghadapi tuntutan belajar maupun lingkungan sosial.

“Hal ini menunjukkan, kesadaran mental mulai tumbuh sejak usia dini, dan orang tua masa kini semakin terbuka untuk memberikan ruang dialog. Pola pikir ini, menurutnya, sangat membantu penanganan dini masalah psikologis,” kata Elda.

Menutup diskusi, Elda menyampaikan harapan agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental. Ia mengimbau orang tua untuk mendengarkan anak lebih sering dan memberikan kesempatan bagi mereka mencari bantuan profesional bila diperlukan.

“Kesehatan mental adalah fondasi kebahagiaan dan produktivitas. Semakin cepat disadari, semakin mudah ditangani,” ujar Elda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....