Tanda Menurunnya Produktivitas Akibat Gangguan Mental

  • 05 Des 2025 08:47 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Kesehatan mental mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial, pekerjaan, serta kebahagiaan pribadi. Seperti diungkapkan Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kaltim, Elda Trialisa Putri, kepada RRI. Ia memaparkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai ketika seseorang mulai kehilangan fokus dan produktivitas.

Elda menegaskan, gejala tersebut tidak selalu murni disebabkan gangguan mental, tetapi dapat dipicu berbagai faktor. Menurutnya, kondisi fisik yang lemah dapat menjadi pemicu stres hingga memengaruhi pikiran, perasaan, bahkan perilaku.

“Banyak faktor yang memengaruhi, termasuk kondisi fisik yang tidak sehat. Ketika tubuh tidak fit, seseorang bisa merasa tidak mampu, lebih cemas, takut, hingga sulit bergerak. Kepala terasa berat, mudah mual, dan akhirnya produktivitas menurun,” ujar Elda.

Kondisi ini sering disalahartikan sebagai malas, padahal bisa jadi merupakan respons tubuh terhadap tekanan berlebih. Selain faktor fisik, Elda menjelaskan bahwa overthinking turut menjadi penyebab menurunnya produktivitas. Ia menyebut bahwa pikiran yang terus berputar tanpa solusi dapat membuat seseorang kehabisan energi mental.

Overthinking membuat orang memikirkan terlalu banyak hal tanpa aksi nyata. Akibatnya dia sulit menentukan langkah dan akhirnya semakin cemas. Gejalanya dapat berupa sulit tidur, rasa tidak tenang, hingga ketakutan berlebihan atas hal kecil,” kata Elda.

Ia menambahkan, kesulitan memulai aktivitas, sering tidur karena merasa tidak bertenaga, hingga terus-menerus memutar ulang kejadian dalam pikiran merupakan indikator kuat bahwa seseorang sedang berada dalam tekanan psikologis.

“Kondisi ini, kata Elda, sering kali tidak disadari karena dianggap wajar atau hanya kelelahan biasa. Padahal, kalau dibiarkan, ini dapat menjadi pintu masuk terjadinya gangguan mental yang lebih berat,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah kondisi seperti ini wajib ditangani tenaga ahli, Elda menjelaskan bahwa tidak semua kasus membutuhkan psikolog. Namun, kemampuan individu dalam mengatasinya tetap menjadi kunci. Meski begitu, ia menegaskan bahwa ada batas tertentu yang perlu diperhatikan.

“Jika seseorang punya dukungan yang tepat, tempat bercerita, dan lingkungan yang mendukung, ia mungkin bisa pulih sendiri,” ucapnya.

Batas tersebut, adalah ketika masalah berlangsung lama dan tidak menunjukkan kemajuan. Menurutnya, meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi langkah bijak untuk menjaga kualitas hidup.

“Kalau sudah berbulan-bulan kondisi itu tidak membaik, tidak ada progres, dan justru semakin berat, maka inilah waktunya mendapatkan pertolongan profesional,” ujar Elda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....