Jaga Lisan dan Perbanyak Mendengar sebagai Bagian dari Empati

  • 21 Sep 2026 09:20 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Kemampuan mendengarkan menjadi salah satu sikap yang semakin penting di tengah kehidupan yang dipenuhi arus informasi dan komunikasi. Tidak sekadar mendengar perkataan orang lain, kemampuan tersebut juga berkaitan dengan empati, kesabaran, dan kemauan memahami perasaan orang lain sebelum memberikan respons.

Faridatul Gufroniah, S.Ag., M.Pd., Penyuluh Agama Islam KUA Jenggawah, Jember, menyampaikan bahwa persoalan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak seseorang berbicara, tetapi juga bagaimana perkataan tersebut disampaikan dan apakah seseorang mampu memberikan ruang bagi orang lain untuk didengar.

Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan sosial, manusia tidak dapat hanya menuntut dirinya untuk dipahami. Ada tanggung jawab untuk mencoba memahami orang lain.

“Kita sering menuntut orang lain untuk memahami diri kita, keadaan kita, akan tetapi kita enggan melakukan hal yang sama kepada mereka,” ungkapnya dalam program Mutiara Pagi Pro 1 Jember, Selasa, 4 Agustus 2026.

Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah terburu-buru memberikan penilaian. Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, misalnya, seseorang cenderung lebih cepat memberikan vonis daripada mencari penjelasan atau melakukan klarifikasi.

Dalam konteks tersebut, Ustazah Faridatul menekankan pentingnya tabayun, yaitu mencari penjelasan sebelum mengambil kesimpulan.

“Kita berharap kesalahan kita dimaklumi karena ada alasan di balik semua itu, tapi ketika orang lain melakukan kesalahan kita justru lebih cepat menjatuhkan vonis daripada mencari penjelasan atau tabayun atau klarifikasi,” jelasnya.

Menurutnya, kehati-hatian dalam berbicara juga menjadi bagian dari tanggung jawab manusia. Ia mengutip Surat Qaf ayat 18 yang mengingatkan bahwa setiap perkataan yang keluar akan dicatat.

“Tidak ada suatu katapun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatatnya,” tuturnya.

Pesan tersebut tidak hanya berlaku untuk ucapan secara langsung. Di era digital, bentuk komunikasi berkembang menjadi pesan, komentar, unggahan, maupun berbagai konten yang dapat tersebar luas.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih mempertimbangkan manfaat sebelum mengetik, membagikan, atau mengunggah sesuatu.

“Apa yang kita ucapkan, apa yang kita ketik, apa yang kita share, apa yang kita upload, apa yang kita download, apapun alasan kita membuat konten apapun tanpa kita memikirkan manfaatnya kepada diri sendiri bahkan kepada masyarakat luas,” katanya.

Ustazah Faridatul juga mengangkat hikmah yang sering dikaitkan dengan manusia yang memiliki satu lisan dan dua telinga. Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi pengingat agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Namun, mendengar yang dimaksud bukan hanya menangkap perkataan secara tekstual. Lebih jauh, seseorang perlu berusaha memahami makna dan perasaan di balik perkataan tersebut.

“Hikmahnya agar supaya kita lebih banyak mendengar, bukan hanya mendengar secara tekstual saja tapi mendengar secara kontekstual yakni mendengar dengan hati,” ujarnya.

Ia menilai kemampuan mendengarkan dengan hati dapat membantu mengurangi kebiasaan menghakimi dan memperkuat empati dalam hubungan sosial. Seseorang tidak harus selalu menyetujui pendapat orang lain untuk dapat mendengarkannya dengan baik.

Dalam dialog tersebut, host juga menegaskan bahwa menjadi pendengar yang baik bukan berarti selalu menyetujui segala sesuatu yang didengar. Dalam perspektif akhlak, perhatian, empati, menjaga lisan, serta memilih kata-kata yang baik menjadi bagian penting dalam berkomunikasi.

Ustazah Faridatul pun mengajak masyarakat untuk menjadikan tema tersebut sebagai bahan introspeksi bersama, bukan sekadar nasihat untuk orang lain.

“Dalam berbicara ini saya bukan hanya mengajak kepada para pemirsa dan pendengar saja, tapi utamanya mari mengajak diri kita sendiri dulu,” katanya.

Ia berharap kesadaran tersebut dapat dimulai dari setiap individu. Dengan semakin banyak orang yang bersedia mendengarkan, memahami, melakukan klarifikasi, dan menjaga ucapan, kehidupan sosial diharapkan menjadi lebih damai dan harmonis.

Sebelum memberikan komentar atau merespons suatu persoalan, masyarakat pun diajak untuk mempertimbangkan kembali dampak dari perkataannya. Sebab, sebuah ucapan dapat membawa manfaat, tetapi juga dapat memperburuk keadaan atau melukai perasaan orang lain.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....