SCN Banyuwangi Perkuat Peran Keluarga Lindungi Anak Disabilitas

  • 21 Sep 2026 01:24 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Penguatan peran orang tua dan caregiver dalam mendeteksi kebutuhan anak sejak dini menjadi salah satu upaya mencegah kekerasan terhadap anak dengan disabilitas. Hal itu menjadi fokus kegiatan Parents & Caregiver Orientation on IRP’s, Family Roles: Orientasi Deteksi Dini Anak Kebutuhan Khusus sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan melalui Penyusunan Individual Rehabilitation Plan (IRP), di Banyuwangi, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Proyek Building Effective Network (BEN) dengan IT Tanjung Wangi melalui Program Sekolah Pengasuhan Berbasis Komunitas (SPBK) yang dikembangkan Rumah Literasi Indonesia. Kegiatan diarahkan untuk memperkuat kapasitas orang tua dan caregiver dalam memahami kebutuhan, potensi, serta perlindungan anak dengan disabilitas.

Masfufah dari Yayasan Matahati/Perkins mengatakan, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan. Menurutnya, anak berkebutuhan khusus masih menghadapi risiko terpinggirkan dalam pemenuhan hak tersebut. “Semua punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan, masalahnya apakah anak-anak ini sering terpinggirkan, utamanya buat anak-anak berkebutuhan khusus salah satunya,” ujar Masfufah, Sabtu (19/9/2026).

Menurut Masfufah, penguatan pemahaman keluarga menjadi bagian penting agar anak dengan disabilitas tetap memperoleh kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya. Peran orang tua dan caregiver diperlukan untuk mengenali kebutuhan anak sekaligus memastikan dukungan yang diberikan tidak mengabaikan hak dan potensi mereka.

Sementara itu, Fitriatul M. dari Ekshafit menekankan bahwa perbedaan kondisi fisik maupun kebutuhan khusus tidak menghilangkan kesempatan anak untuk berkembang. “Semua anak memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama, cuma keterbatasannya saja yang berbeda, dan kita sadar bahwa secara psikologis semuanya sama,” kata Fitriatul M., Sabtu (19/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, orang tua dan caregiver mendapatkan pemahaman mengenai deteksi dini kebutuhan khusus, termasuk mengenali tanda-tanda yang memerlukan perhatian serta faktor risiko yang dapat memengaruhi keselamatan dan partisipasi anak. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu keluarga mengambil langkah lebih awal melalui komunikasi, pendampingan, maupun rujukan kepada pihak yang sesuai.

Salah satu materi yang diperkenalkan adalah Individual Rehabilitation Plan atau IRP sebagai alat untuk memahami kondisi dan kebutuhan anak secara individual. Penyusunan IRP tidak hanya mempertimbangkan fungsi tubuh, tetapi juga kemampuan, aktivitas, partisipasi anak, dukungan keluarga, serta kondisi lingkungan yang dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat.

Kolaborasi BEN dengan IT Tanjung Wangi melalui SPBK juga mendorong pendekatan berbasis keluarga dan komunitas dalam perlindungan anak dengan disabilitas. Orang tua dan caregiver ditempatkan sebagai mitra dalam proses deteksi dini, pengambilan keputusan, pendampingan, pemantauan perkembangan, hingga pencegahan kekerasan.

Melalui penguatan kapasitas keluarga, jejaring layanan, serta mekanisme rujukan yang responsif, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan pengasuhan yang aman dan inklusif. Upaya itu sekaligus mendorong pemenuhan hak anak dan remaja dengan disabilitas agar memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan kehidupan sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....