Forum Anak Jember Bedah Toxic Positivity dan Pentingnya Validasi Emosi

  • 16 Sep 2026 16:09 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Fenomena toxic positivity atau kebiasaan menuntut diri sendiri maupun orang lain untuk selalu berpikiran positif hingga menekan emosi negatif kini kian marak dialami oleh generasi muda. Isu kesehatan mental yang sangat erat dengan kehidupan remaja tersebut menjadi topik utama dalam program siaran "Jaga Malam" segmen "NGUMPUL" (Ngobrol dan Update Komunitas Lokal) di Pro 2 RRI Jember.

Dalam perbincangan bersama dua anggota Forum Anak Jember (FAJ), Agni Himmatus Salamah dan Mohammad Arik Setiawan, yang dipandu oleh host Irza Diharjo pada Sabtu, 5 September 2026, fenomena toxic positivity sering kali muncul tanpa disadari dalam pertemanan maupun di media sosial. Lingkungan digital kerap menampilkan standar hidup serba indah (highlight reel), yang memicu ketakutan dianggap lemah atau dramatis sehingga mendorong remaja untuk berpura-pura bahagia.

"Secara sederhana, toxic positivity itu kondisi ketika menurut diri sendiri atau orang lain, ada pikiran positif yang malah menekan emosi seseorang. Misalnya teman curhat, tapi kita tidak menangkap maksudnya dan merespons, 'Ya sudahlah, masih ada yang lebih parah dari kamu.' Bukannya lega, orang yang cerita malah merasa emosinya tidak dihargai," ujar Arik saat menjelaskan fenomena tersebut dalam siaran Pro 2 RRI Jember.

Menurut narasumber dari FAJ, ucapan pembanding seperti "masih mending kamu" atau kalimat ajakan instan untuk bersyukur secara tidak tepat justru berisiko memperburuk kondisi mental seseorang. Memendam emosi negatif seperti sedih, marah, atau kecewa secara berlebihan ibarat balon gas yang ditiup terus-menerus hingga berisiko meledak. Dampak buruk yang ditimbulkan tidak hanya memicu kecemasan dan kecenderungan menarik diri dari pergaulan, tetapi juga berisiko tinggi menyebabkan burnout mental pada remaja.

Dalam kesempatan tersebut, FAJ menekankan pentingnya memahami perbedaan antara motivasi positif yang sehat (healthy positivity) dan toxic positivity. Kunci utamanya terletak pada validasi emosi, yakni mau mengakui dan mendengarkan perasaan seseorang terlebih dahulu. Remaja diingatkan bahwa seluruh spektrum emosi seperti sedih, marah, dan takut yang merupakan sinyal alami tubuh yang normal serta valid untuk dirasakan.

"Setiap jenis emosi itu ada di tubuh kita sebagai sinyal atau alarm alami. Ketika kita kehilangan sesuatu atau sedang sedih, kita berhak meresponsnya. Yang penting kita belajar jujur pada perasaan sendiri dan tetap meluapkannya dengan cara yang baik," tutur Agni.

Sebagai langkah self-care dan upaya menjaga kesehatan mental, FAJ menyarankan remaja untuk jujur pada diri sendiri, memvalidasi emosi melalui jurnaling, menangis bila perlu, bercerita kepada orang terpercaya, serta melakukan digital detox untuk menghindari tekanan FOMO (Fear of Missing Out) di media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....