Desa Wisata Sumber Wringin Tembus 15 Besar Nasional

  • 09 Sep 2026 14:23 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso – Desa Wisata Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso, kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Setelah melalui proses panjang dalam berbagai ajang penilaian desa wisata, Sumber Wringin kini berhasil masuk 15 besar Wonderful Indonesia Award.

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Intan Puspita, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, Kementerian Pariwisata sebelumnya telah menyelenggarakan program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) sejak 2020. Bondowoso sendiri pernah mencatatkan Desa Wisata Tirta Agung pada 2022 dan kemudian Desa Wisata Sumber Wringin mulai mencuri perhatian di tingkat nasional pada 2024.

“Di tahun 2024 itu masuk 100 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Lalu di tahun yang sama masuk 75 besar di Desa Wisata Nusantara Kementerian Desa. Tahun 2025 kita ikut lagi Wonderful Indonesia dan masuk 60 besar,” ujar Intan saat dikonfirmasi, Rabu, 9 September 2026.

Pada tahun ini, Desa Wisata Sumber Wringin kembali mengikuti ajang tersebut. Perjuangan itu akhirnya membawa Sumber Wringin menembus 30 besar hingga kemudian berhasil melaju ke 15 besar tingkat nasional.

Intan menjelaskan, penilaian desa wisata tingkat nasional tidak hanya berfokus pada atraksi maupun potensi daya tarik wisata. Salah satu aspek terbesar yang menjadi perhatian adalah dampak keberadaan desa wisata terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat sekitar.

Salah satu potensi unggulan Sumber Wringin yang menjadi penguat dalam penilaian adalah aktivitas pendakian Gunung Raung.

Pengelolaan wisata pendakian tersebut melibatkan banyak unsur masyarakat, mulai dari pemandu, porter, tukang ojek, pengelola rumah singgah, homestay hingga penyedia logistik.

“Dari kebermanfaatan itu masyarakat mendapatkan perekonomian yang menambah,” jelasnya.

Intan mencontohkan, masyarakat yang sebelumnya bekerja sebagai pengambil getah pinus bersama Perhutani kini memiliki alternatif penghasilan dari sektor pariwisata.

Seorang pemandu pendakian Gunung Raung, misalnya, dapat memperoleh sekitar Rp350 ribu dalam sehari. Sementara untuk kegiatan pendakian biasanya membutuhkan waktu minimal dua hari.

“Dengan kegiatan wisata dua hari, mereka bisa hampir dapat Rp1 juta. Belum tip,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan oleh masyarakat yang berprofesi sebagai ojek wisata. Dalam sekali perjalanan, tarif ojek dapat mencapai sekitar Rp150 ribu. Ketika kunjungan wisatawan sedang ramai, seorang pengemudi bahkan bisa melayani hingga lima kali perjalanan dalam satu hingga dua hari.

“Kalau sedang ramai bisa balik sampai lima kali dalam satu-dua hari. Itu bisa dilihat kebermanfaatannya. Belum rumah singgah, belum homestay-homestay,” imbuhnya.

Selain dampak ekonomi, tata kelola wisata juga menjadi salah satu kekuatan Sumber Wringin hingga mampu masuk 15 besar.

Khusus untuk pendakian Gunung Raung, pengelola telah menerapkan sistem tata kelola yang dinilai cukup baik. Proses registrasi pendaki dapat dilakukan secara daring maupun langsung di lokasi.

Sebelum memulai pendakian, wisatawan juga mendapatkan pengarahan atau briefing mengenai jalur yang akan ditempuh. Sistem mitigasi bencana di kawasan pendakian juga telah dipersiapkan.

“Dari mulai registrasinya bisa online, bisa langsung ke sana. Lalu sebelum mulai pendakian kita ada briefing dulu bagaimana rutenya. Sampai ke mitigasi bencananya di sana sudah terkelola dengan baik. Itu merupakan poin lebih dari Sumber Wringin,” terang Intan.

Ia menambahkan, keberhasilan menembus 15 besar bukanlah proses yang dimulai hanya ketika pendaftaran dibuka. Disparbudpora bersama pengelola desa wisata terlebih dahulu melakukan pembenahan dokumen dan sistem administrasi.

Dalam proses penilaian, terdapat 10 indikator yang harus dipenuhi. Bahkan, dalam satu indikator terdapat sejumlah poin yang harus dibuktikan melalui berbagai evidence atau bukti pendukung.

“Memang masuk ke 15 besar merupakan perjuangan luar biasa. Karena juri dari kementerian pun tidak hanya satu, tapi ada belasan orang yang menilai kategori dan indikator-indikator itu,” ujarnya.

Kini, Pemkab Bondowoso mulai mempersiapkan tahapan visitasi dewan juri. Intan menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan pemangku wilayah serta para pengelola desa wisata.

Persiapan visitasi nantinya akan dibagi menjadi dua tim. Tim pertama akan fokus mempersiapkan dokumen dan berbagai bukti administrasi yang akan diverifikasi oleh juri.

Sementara tim kedua akan mempersiapkan potensi wisata Sumber Wringin di lapangan, termasuk menyusun paket wisata yang nantinya akan disajikan secara langsung kepada para juri.

“Visitasi juri itu akan fokus di dua hal. Yang pertama dokumen-dokumen evidence ini yang harus dibuktikan saat visitasi juri di hari pertama. Lalu di hari kedua kita menyajikan potensi Desa Wisata Sumber Wringin lebih dekat melalui paket wisata yang kita tawarkan kepada juri,” ungkapnya.

Visitasi tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pekan ketiga September hingga pekan ketiga Oktober 2026. Jika Sumber Wringin mendapatkan jadwal awal, maka tim hanya memiliki waktu maksimal sekitar dua minggu untuk mematangkan seluruh persiapan.

Intan berharap seluruh unsur yang terlibat dapat bekerja bersama untuk memaksimalkan kesempatan tersebut, sehingga Sumber Wringin tidak hanya mampu bertahan di 15 besar, tetapi juga berpeluang melaju ke tahap berikutnya dan membawa nama Bondowoso semakin dikenal di tingkat nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....