Gapasdap Siap Talangi Perluasan Dermaga LCM Ketapang

  • 07 Sep 2026 08:49 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mendorong perluasan dermaga LCM (plengsengan) di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, sebagai solusi jangka pendek mengatasi keterbatasan tempat sandar kapal. Gapasdap bahkan siap menalangi anggaran sekitar Rp400 juta untuk pembangunan konstruksi cor beton jika rencana tersebut disepakati pemangku kepentingan.

Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim, mengatakan perluasan dermaga LCM dapat dilakukan dengan menyatukan area dermaga melalui konstruksi cor beton. Dengan tambahan area tersebut, kapasitas LCM yang saat ini hanya mampu melayani 3 kapal sekaligus dapat ditingkatkan menjadi 4 kapal.

"Jika dermaga LCM diperluas dengan konstruksi cor, jumlah kapal LCT yang dapat dilayani bertambah dari 9 kapal menjadi 13 kapal. Sekaligus 4 kapal bisa sandar melakukan pemuatan sebagai solusi jangka pendek pengganti sementara Dermaga Bulusan," jelas Nurjatim, Minggu, 6 September 2026.

Menurutnya, perluasan LCM diperlukan menyusul Dermaga Bulusan yang saat ini belum dapat difungsikan karena dua fender roboh ke laut dan membutuhkan perbaikan. Sebelumnya, Dermaga Bulusan berpasangan dengan Dermaga LCM 4 Gilimanuk untuk mendukung operasional penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

Nurjatim menjelaskan, saat ini terdapat 3 dermaga LCM eksisting yang masing-masing dapat melayani 3 kapal. Penambahan satu area sandar melalui perluasan LCM dinilai berpotensi menambah 4 kapal LCT yang dapat beroperasi di lintasan tersebut.

Ia menegaskan antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang bukan disebabkan kekurangan jumlah kapal penyeberangan. Menurutnya, jumlah armada yang tersedia sebenarnya mencukupi, tetapi tidak seluruhnya dapat dioperasikan secara optimal karena keterbatasan dermaga.

"Kalau pemangku kepentingan setuju untuk memperluas dermaga LCM Pelabuhan Ketapang, Gapasdap siap menalangi anggarannya. Perluasan dengan konstruksi cor diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp400 juta," ungkap Nurjatim.

Ia menambahkan, saat ini terdapat 56 armada kapal di lintas Ketapang-Gilimanuk. Dalam kondisi normal, sekitar 28-32 kapal dapat beroperasi setiap hari, tetapi saat ini kemampuan operasi turun menjadi sekitar 23 kapal karena sejumlah dermaga tidak dapat digunakan secara optimal.

"Jadi kembali kami tegaskan, lintasan Ketapang-Gilimanuk ini bukan kekurangan kapal. Jumlah kapal sudah lebih dari cukup, tetapi faktor utamanya jelas kurangnya dermaga. Dari 56 kapal eksisting, yang bisa melayani operasi hanya sekitar 40 persen. Kapal banyak, tetapi tempat sandarnya tidak ada," ujar Nurjatim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....