Pelaku Kopi Jember Didorong Bersatu Perkuat Ekosistem hingga Pasar Global

  • 02 Sep 2026 01:23 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Sejumlah pelaku usaha dan pegiat kopi di Kabupaten Jember didorong memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan ekosistem kopi dari hulu hingga hilir.

Upaya tersebut dibahas dalam Forum Komunikasi Ekosistem Kopi Jember yang digelar di Auditorium LPP RRI Jember, pada Selasa (1/9/2026).

Forum bertajuk Kopi Jember Bersatu Membangun Ekosistem Kopi Jember yang Kuat, Berdaya Saing dan Mendunia tersebut menjadi bagian dari rangkaian RRI Fest 2026.

Ketua Umum BPC HIPMI Jember, Holand Sanjaya, mengatakan bahwa kopi tidak hanya merupakan komoditas pertanian, tetapi menjadi bagian dari identitas dan perekonomian masyarakat Jember.

Menurutnya, forum itu mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem kopi, mulai dari petani, pelaku industri, akademisi hingga eksportir. Sedikitnya 15 pihak dari berbagai unsur hadir dalam forum tersebut.

Ia menilai, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah belum kuatnya kolaborasi antarpelaku usaha kopi. Masing-masing pihak dinilai masih cenderung berjalan sendiri.

“Kalau yang saya amati, para pelaku usaha yang ketemu hari ini di ekosistem kopi ini, egonya masih belum bisa menyatu. Gandengan tangannya masih kurang, solidaritasnya masih kurang,” ujarnya.

Karena itu, kata dia, HIPMI Jember berupaya menjadi penghubung agar para pelaku dapat membangun komunikasi dan kerja sama yang lebih berkelanjutan.

“Pesan dari saya, sebuah usaha yang besar itu tidak bisa dibangun sendirian. Kita harus selalu bergandengan tangan,” ujarnya.

Holand mengatakan, hasil pertemuan tersebut nantinya akan ditindaklanjuti melalui pembentukan grup komunikasi khusus. Sehingga pembahasan mengenai pengembangan ekosistem kopi Jember tidak berhenti setelah forum berlangsung.

Sementara itu, Founder Eksportir Muda Indonesia, Vicky Armando Ambate, mengatakan Jember memiliki modal besar untuk mengembangkan kopi hingga ke pasar internasional.

Menurutnya, keberadaan Gunung Argopuro dan Gunung Raung, pusat penelitian kopi, serta dukungan petani, pelaku usaha dan akademisi menjadi potensi yang dapat memperkuat posisi kopi Jember.

Namun, ia menilai potensi tersebut masih belum sepenuhnya terintegrasi. Salah satunya terlihat dari belum adanya eksportir yang secara konsisten membawa kopi langsung dari Jember, dengan identitas daerah tersebut.

Padahal, peluang pasar ekspor masih terbuka, termasuk ke pasar nontradisional di kawasan Asia seperti Jepang dan China, selain pasar Eropa yang selama ini menjadi salah satu tujuan ekspor kopi.

“Nah, dengan adanya wadah ini bisa kita bertegur sapa, bisa berkolaborasi, kita bisa bekerja sama, saling curhat bagaimana kopi Jember bisa sustain, nggak sustain di Jember itu sendiri tapi bisa sustain di pasar dunia,” katanya.

Vicky berharap forum tersebut dapat menjadi ruang untuk menyatukan berbagai kepentingan, sekaligus menghasilkan masukan bagi pemerintah dalam memperkuat kebijakan pengembangan kopi dari hulu hingga hilir.

“Saya pikir pemerintah sudah punya program tersendiri ya untuk mendukung petani mulai dari hulu ke hilir. Cuma mungkin belum dimanfaatkan dan dikolaborasikan dengan baik,” katanya.

Melalui penguatan komunikasi dan kerja sama, kopi Jember diharapkan tidak hanya mampu bertahan sebagai komoditas unggulan daerah. Tapi juga memiliki identitas yang kuat dan semakin kompetitif di pasar global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....