Bank Sampah Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Peluang Ekonomi Keluarga
- 31 Agt 2026 07:20 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Sampah rumah tangga yang selama ini kerap dianggap sebagai beban ternyata dapat menjadi sumber peluang ekonomi apabila dikelola dengan baik. Melalui pengelolaan bank sampah, masyarakat tidak hanya didorong untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang mereka pilah dan setorkan.
Ketua Bank Sampah Unit (BSU) Al-Malika, Sulistyawatiningsih, mengatakan perubahan cara pandang terhadap sampah perlu dimulai dari diri sendiri. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat membentuk kebiasaan positif di dalam keluarga.
“Mungkin awalnya memang beban, tapi saya akui. Beban itu sangat berat, kenapa? Karena untuk memilah sampah sendiri, kalau tidak dimulai dari diri sendiri, tidak akan bisa jadi contoh untuk lingkungan,” ujar Sulistyawatiningsih dalam program UMKM Bicara Pro 1 Jember, Senin, 13 April 2026.
Ia menceritakan, keberadaan BSU Al-Malika di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Jember, mulai memberikan perubahan di lingkungan sekitar sejak masyarakat bergabung sebagai anggota bank sampah pada 2022. Salah satu perubahan yang terlihat adalah berkurangnya kebiasaan membuang sampah ke sungai.
Menurut Sulistyowatiningsih, pemilahan sampah juga mulai menjadi kebiasaan di keluarganya. Ia mencontohkan anaknya yang sebelumnya mencampur seluruh sampah, kini mulai terbiasa mencuci dan memisahkan sampah plastik untuk disetorkan.
“Ketika sudah berjalan selama bertahun-tahun dari tahun 2022, untuk di lingkungan diri saya sendiri, alhamdulillah. Anak saya yang awalnya membuang sampah dicampur jadi satu, ketika sudah pulang dari pondok pesantren, nyuci plastik juga,” katanya.
Ia menilai kebiasaan memilah sampah yang awalnya terasa berat dapat berubah menjadi aktivitas yang memberikan manfaat apabila dilakukan secara konsisten.
“Sebagai kebiasaan akan menjadi kebaikan yang paling baik untuk diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat,” lanjutnya.
Selain menjaga lingkungan, sampah yang telah dipilah juga memiliki nilai ekonomi. Sulistyowatiningsih mengatakan berbagai barang bekas dapat diolah menjadi produk bernilai jual maupun memiliki nilai seni. Ia bahkan menunjukkan sejumlah hasil kreativitas dari barang bekas, seperti pot dari pampers, lukisan dari kertas kalender, hingga hiasan yang dibuat dari tutup galon.
“Kalender di rumah jangan dibuang, kalau bisa walau ndak bisa menggambar, tapi usahakanlah kita memanfaatkan kalender tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua BSU Sripeling, Siti Nursiatien, mengatakan pengelolaan bank sampah juga dapat diterapkan di kawasan perkotaan. BSU yang merupakan singkatan dari Srikandi Peduli Lingkungan tersebut berada di Perumahan Villa Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember.
Menurutnya, pada awal pembentukan bank sampah, terdapat keraguan apakah masyarakat perumahan yang mayoritas memiliki aktivitas sebagai pegawai akan tertarik mengikuti program tersebut. Namun, edukasi secara berkelanjutan membuat masyarakat mulai memahami manfaat pengelolaan sampah.
“Kita memberikan edukasi kepada mereka di pengajian, di PKK juga, bahwa manfaatnya kita di BSU itu banyak. Gimana caranya kita memanfaatkan sampah supaya sampah itu tidak menumpuk,” kata Siti Nursiatien dalam program siaran yang sama.
Ketertarikan warga semakin meningkat setelah mereka mengetahui bahwa sampah yang disetorkan memiliki nilai ekonomi. Hingga saat ini, BSU Sripeling telah memiliki lebih dari 50 keluarga sebagai nasabah.
“Awalnya cuma mau setor sampah saja, ternyata ‘Oh, ternyata ada uangnya. Ya sudah, oke, aku mau.’ Alhamdulillah sampai saat ini anggota kita sudah melebihi dari 50 orang nasabah,” ujarnya.
Pengelolaan tersebut juga mengajarkan masyarakat bahwa sampah bernilai tidak hanya berasal dari botol plastik atau kardus. Sampah dari kamar mandi, dapur, hingga kemasan kosmetik juga dapat dipilah dan disetorkan apabila memenuhi ketentuan bank sampah.
Sekretaris BSU Sripeling, Debriza Bridha Wityanisha, menjelaskan mekanisme pengelolaan dimulai dari warga yang memilah sampah berdasarkan jenisnya sejak dari rumah. Sampah kemudian dibawa saat jadwal penimbangan untuk ditimbang, dicatat, dan dikelompokkan berdasarkan jenis.
“Jadi ketika datang ke bank sampah itu kami menimbang, mencatat, kemudian mengelompokkan per karung itu sendiri-sendiri sesuai jenisnya,” jelas Bridha.
Setelah itu, sampah dijual kepada mitra dan hasilnya direkap dalam tabungan nasabah. Tabungan tersebut bahkan dapat dimanfaatkan dalam bentuk tabungan Lebaran maupun tabungan emas.
Pengalaman BSU Al-Malika dan BSU Sripeling menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat memiliki manfaat apabila dipilah, dikelola, dan dikembangkan secara konsisten.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....