Unars Situbondo Bantu Karang Taruna Kelola Sampah Jadi Kompos

  • 30 Jul 2026 01:46 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Situbondo - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Abdurrachman Saleh (Unars) Situbondo, Jawa Timur, memberikan bantuan alat pemilah sampah kepada kelompok Karang Taruna di Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Situbondo, Rabu, 29 Juli 2026. Bantuan tersebut disertai edukasi pengelolaan sampah rumah tangga menjadi kompos sebagai upaya mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

"Selain memberikan bantuan alat pemisah sampah, kami juga mengedukasi pengelolaan sampah rumah tangga menjadi kompos," ujar Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Unars Situbondo, Gema Iftitah Anugerah Yekti.

Gema Iftitah mengemukakan, kegiatan edukasi dan pemberian bantuan alat pemilah sampah yang menyasar Kelompok Karang Taruna itu merupakan dana hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (DPPM Kemdiktisaintek) tahun anggaran 2026.

"Program ini respons dari meningkatnya volume sampah akibat aktivitas ekonomi di perkotaan. Tanpa penanganan sampah yang tepat, sampah bisa mencemari air serta ekosistem penopang produksi pangan," ucapnya.

Katanya, sampah organik limbah rumah tangga yang berpotensi diolah menjadi barang bermanfaat seperti kompos, kerap kali hanya berakhir di tempat pembuangan akhir atau TPA, tanpa dimanfaatkan.

"Program ini untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga agar bisa dimanfaatkan salah satunya menjadi kompos," imbuhnya.

Menurut Gema, dengan mesin pemilah sampah ini proses pemilahan sampah organik dan anorganik menjadi lebih mudah, sehingga masyarakat dapat mengoptimalkan pemanfaatan sampah sebagai sumber daya yang mendukung ketahanan pangan mereka.

"Nantinya kita akan memberikan pendampingan dalam mengolah sampah organik menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam dan pupuk untuk budi daya sayur organik dengan memaanfaatkan botol, galon dan karung bekas," terang Gema.

Teknologi pembuatan kompos ini dinilai menjadi inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga secara lebih modern dan berkelanjutan. Namun bukan berarti pengelolaan sampah bergantung pada teknologi, tetapi juga diikuti dengan perubahan perilaku masyarakat.

"Oleh karenanya, kegiatan ini dirancang tidak sekadar memberikan bantuan alat, melainkan juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan limbah sebagai sumber daya yang produktif," ujarnya.

Melalui pengolahan sampah organik menjadi pupuk, masyarakat didorong untuk mengembangkan budi daya sayuran dan komoditas pangan lainnya pada lahan terbatas guna meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.

"Program Pengabdian kepada Masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi tepat guna dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....