BPBD Jember Catat 1.052 KK Terdampak Kekeringan di 8 Kecamatan
- 29 Agt 2026 11:38 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Jember hingga akhir Agustus 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat sedikitnya 1.052 kepala keluarga (KK) terdampak kekurangan air bersih, yang tersebar di 8 kecamatan.
Delapan kecamatan yang terdampak tersebut di antaranya Pakusari, Kalisat, Silo, Bangsalsari, Sumbersari, Patrang, Rambipuji, dan Jelbuk.
Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan sebagian besar wilayah Jember saat ini masih berada dalam kondisi kering.
“Ada laporan mendung sudah mengelayut, kemudian rintik-rintik, tapi kemudian tidak hujan. Jadi sejauh ini, prediksi BMKG benar bahwa puncak musim kemarau di Agustus, bisa jadi hingga September,” ujarnya, saat on air Halo RRI, Jumat (28/8/2026).
Edy juga menjelaskan kondisi di Kecamatan Jelbuk berbeda dengan wilayah lainnya. Kekurangan air di wilayah tersebut sebelumnya lebih banyak disebabkan kendala teknis pada sistem pipanisasi.
Persoalan itu telah ditangani melalui koordinasi BPBD, Dinas PUPR, pemerintah kecamatan dan desa. Setelah dilakukan perbaikan teknis, distribusi air di Jelbuk kembali berjalan normal.
“Sehingga untuk tandon dan distribusi air, sementara kita stop melihat perkembangan lebih lanjut,” tambahnya.
Sementara untuk wilayah yang masih terdampak kekeringan, BPBD terus melakukan asesmen dan mendistribusikan air bersih. Sejak 2 Juli hingga akhir Agustus, sekitar 442.500 liter air telah disalurkan kepada masyarakat.
Distribusi dilakukan menggunakan empat armada tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Armada tersebut berasal dari BPBD, Dinas Perkim, PDAM, dan PMI.
“Ada yang dua hari sekali, ada yang tiga hari sekali, ada yang empat hari sekali. Tergantung daripada jumlah KK yang terdampak,” ujarnya.
Menurutnya, distribusi air masih terus dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah. BPBD juga memastikan persediaan air bersih masih relatif aman, karena memiliki enam sumber mata air yang menjadi rujukan untuk penanganan kekeringan.
Meski demikian, BPBD tetap mewaspadai kemungkinan kekeringan berlanjut hingga September. Edy mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena hujan belum turun secara merata hingga penghujung Agustus.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diminta menghemat penggunaan air dan memprioritaskannya untuk kebutuhan utama, seperti minum dan memasak.
“Warga yang mengalami kekurangan air juga diminta segera melapor melalui kepala desa atau kepala kelurahan. BPBD akan melakukan asesmen dan menentukan kebutuhan distribusi air,” katanya.
Edy mencontohkan, BPBD masih melakukan asesmen di sejumlah wilayah, termasuk Desa Curahmalang, Kecamatan Rambipuji, untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan warga.
“Prioritaskan penggunaan air untuk kegiatan primer, misalnya untuk masak dan minum. Kemudian berturut-turut untuk mandi, cuci motor, siram-siram taman dan seterusnya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....