Dakwah NU Harus Hadapi Perubahan Generasi Digital

  • 28 Agt 2026 12:57 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi - Perubahan cara generasi muda memperoleh pengetahuan di era digital menjadi tantangan baru bagi Nahdlatul Ulama (NU) dalam mengembangkan dakwah. Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan media sosial kini tidak hanya mencari informasi keagamaan melalui tokoh atau komunitas, tetapi juga melalui algoritma digital hingga kecerdasan buatan (AI).

Mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Abdullah Azwar Anas, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara generasi muda membentuk pandangan, termasuk dalam memahami agama. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian NU agar dakwah tetap menjangkau karakter masyarakat yang semakin kritis dan terkoneksi secara digital.

“Gen Z ini hidupnya dibentuk dari ponselnya. Sejak lahir mereka sudah melek internet. Pandangannya ditentukan oleh algoritma, termasuk bagaimana pandangan keagamaannya,” ujar Anas, Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurut Anas, perubahan tersebut juga terlihat pada masyarakat urban. Modernisasi tidak serta-merta menghilangkan religiusitas, tetapi membuat praktik keagamaan menjadi lebih personal dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada komunitas.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai spiritualitas urban. Agama dapat menjadi bagian dari kebutuhan batin masyarakat perkotaan yang menghadapi tekanan ekonomi, kesibukan, hingga kesepian sosial.

“Agama menjadi relatif lebih personal dibanding komunal, menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan batin di tengah tekanan ekonomi serta kesepian sosial yang banyak dialami masyarakat perkotaan,” kata Anas.

Di tengah kondisi itu, masyarakat semakin bebas memilih sumber pengetahuan keagamaan. Media sosial memungkinkan seseorang memperoleh informasi dari berbagai tokoh dan sumber di luar otoritas keagamaan tradisional, kemudian menggabungkannya dengan psikologi, motivasi, kesehatan, sains, hingga pengembangan diri.

Anas menilai perubahan tersebut membuat pola dakwah perlu ikut berkembang. NU tidak cukup hanya memperbanyak konten keagamaan di ruang digital, tetapi juga perlu memahami persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda dan masyarakat perkotaan.

“Organisasi Islam seperti NU perlu terus meningkatkan langkah-langkah inovatif yang sebenarnya sudah mulai dilakukan agar bisa semakin relevan dengan karakter masyarakat masa kini yang lebih cair, kritis, dan terkoneksi secara digital,” ujar Anas.

Sejumlah bidang yang dinilai perlu diperkuat antara lain regenerasi kader urban, pengembangan masjid perkotaan, digitalisasi dakwah, dan komunitas profesional. Materi dakwah juga perlu merespons isu seperti kesehatan mental, teknologi, kewirausahaan, AI, dan perkembangan sains.

Anas mengatakan tantangan tersebut membutuhkan kader yang tidak hanya menguasai ilmu keislaman, tetapi juga memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan lintas disiplin dinilai penting agar dakwah mampu menjawab pertanyaan generasi muda dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Ke depan, diperlukan lebih banyak kader NU yang memiliki kemampuan interdisipliner, seperti ahli fikih yang memahami bioteknologi atau pendidik pesantren yang menguasai ekonomi digital,” tuturnya.

Ia juga mendorong NU membangun kolaborasi dengan komunitas ilmiah. Menurutnya, otoritas pengetahuan saat ini semakin tersebar sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi tentang kesehatan, teknologi, dan sains dari dokter, ilmuwan, maupun kreator konten.

Di sisi lain, integrasi agama dan sains perlu dilakukan secara kritis. Anas mengingatkan adanya dua kecenderungan ekstrem, yakni saintisme yang menempatkan sains sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan sikap anti-sains yang menolak temuan ilmiah karena dianggap bertentangan dengan pemahaman agama tertentu.

“Tradisi intelektual NU sebenarnya memiliki potensi untuk mengambil jalan tengah dengan mempertemukan wahyu, akal, dan pengalaman empiris,” kata Anas,

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....