Teknologi Universitas Panca Marga Dorong Kemandirian Warga Terdampak Semeru
- 21 Agt 2026 12:43 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember: Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo mendorong pemulihan ekonomi masyarakat terdampak erupsi Gunung Semeru melalui penerapan teknologi tepat guna dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Upaya tersebut diwujudkan melalui program Pemberdayaan Ekonomi Pascabencana Berbasis Teknologi melalui Usaha Bata Ringan Nonstruktural dan Produk Olahan Salak bagi Kelompok Tani dan PKK Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Program yang telah dilaksanakan pada tahun pertama ini menyasar Kelompok Tani Wana Semeru Lestari dan Kelompok PKK Desa Supiturang. Kegiatan diarahkan untuk menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Semeru, terutama akibat terganggunya aktivitas pertanian. Desa Supiturang sendiri merupakan wilayah agraris yang sebagian lahan pertaniannya terdampak material vulkanik pascaerupsi.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Judi Suharsono, S.E., Ak., M.M. kepada RRI mengatakan, Program ini dirancang tidak hanya untuk memberikan bantuan sarana produksi, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pembentukan unit usaha produktif. Pendekatan dilakukan secara terintegrasi melalui penerapan teknologi, pelatihan, pendampingan manajemen usaha, hingga penguatan pemasaran."ujarnya, 18 Agustus 2026
Salah satu inovasi utama dalam kegiatan ini adalah pengembangan bata ringan nonstruktural berbasis Cellular Lightweight Concrete (CLC). Penerapan teknologi tersebut dilakukan dengan pendampingan Prof. Ridho Bayuaji, S.T., M.T., Ph.D., yang memiliki keahlian di bidang teknologi dan konstruksi CLC. Kehadiran tenaga ahli tersebut memperkuat aspek teknis program, mulai dari penerapan teknologi produksi, penggunaan peralatan, hingga pengendalian mutu produk.

Pada Kelompok Tani Wana Semeru Lestari, tim UPM menerapkan teknologi produksi bata ringan dengan dukungan foam generator, mesin mixer, cetakan, serta peralatan pendukung lainnya. Unit usaha tersebut ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 300 hingga 500 unit bata ringan per hari, sekaligus membuka peluang kerja alternatif bagi petani yang aktivitas pertaniannya terdampak bencana. Prof. Ridho Bayuaji berperan dalam memastikan penerapan teknologi CLC dapat dilakukan sesuai prinsip teknis dan kebutuhan masyarakat. Pendampingan tidak hanya diarahkan pada pengoperasian peralatan, tetapi juga pada proses produksi agar kelompok mitra mampu menghasilkan bata ringan secara lebih terukur dan konsisten.
Sementara itu, pada Kelompok PKK Desa Supiturang, tim menerapkan teknologi vacuum frying untuk mengolah salak menjadi produk bernilai tambah. Teknologi tersebut dipadukan dengan pelatihan pengolahan pangan, pengembangan kemasan, branding, serta strategi pemasaran. Program menargetkan terbentuknya sedikitnya dua jenis produk olahan salak dan peningkatan kapasitas produksi kelompok. Selain teknologi produksi, kegiatan juga mencakup pelatihan dan pendampingan manajemen usaha, pencatatan keuangan, penyusunan SOP produksi, pengembangan identitas produk, serta strategi pemasaran. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh teknologi, tetapi juga dibekali kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan usaha secara mandiri.

Program ini diketuai Dr. Judi Suharsono, S.E., Ak., M.M., dengan anggota Prof. Ridho Bayuaji, S.T., M.T., Ph.D., Linda Kurnia Supraptiningsih, S.Pd., M.Pd., dan Triyan Bayu Pratama, S.P., M.P. Tim memiliki latar belakang keahlian yang saling melengkapi, mulai dari manajemen keuangan, teknologi konstruksi dan CLC, branding serta digitalisasi, hingga pengembangan usaha dan pemasaran agribisnis. Program ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan (PDB) – Pemberdayaan Desa Binaan, dengan pendanaan dari Dikti dan dukungan Universitas Panca Marga. Pelaksanaan kegiatan tahun pertama juga melibatkan mahasiswa dalam berbagai aktivitas, mulai dari pendampingan teknis, pengujian teknologi, dokumentasi, hingga kegiatan pemberdayaan di lapangan.
Dr. Judi Suharsono menyampaikan, "Keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya peralatan, tetapi dari kemampuan kelompok mitra dalam mengoperasikan teknologi dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Karena itu, pendampingan dilakukan secara bertahap agar teknologi yang diterapkan benar-benar dapat dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat." katanya.
Sementara Prof. Ridho Bayuaji menekankan pentingnya penerapan teknologi CLC yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan mitra. Melalui pendampingan ahli, kelompok tani diharapkan mampu memahami proses produksi bata ringan dengan baik sehingga teknologi yang diberikan dapat terus digunakan dan dikembangkan setelah program berakhir.Melalui kolaborasi antara Universitas Panca Marga, tim ahli, mahasiswa, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi salah satu model pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana berbasis teknologi tepat guna. Pengembangan usaha bata ringan diharapkan membuka sumber pendapatan alternatif bagi petani terdampak, sementara pengolahan salak memberikan peluang peningkatan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperkuat peran ekonomi perempuan melalui kelompok PKK. Dengan pemanfaatan teknologi CLC, pengolahan hasil pertanian, penguatan manajemen, dan pendampingan berkelanjutan, Universitas Panca Marga berupaya mendorong masyarakat Desa Supiturang untuk bangkit dan membangun kembali kemandirian ekonomi pascabencana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....