Sulap Limbah Kelapa Jadi Peluang Cuan

  • 20 Agt 2026 10:37 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember- RRI.CO.ID, Banyuwangi- Limbah serabut dan batok kelapa yang selama ini terbengkalai di Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, kini disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Jember (Polije) dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, limbah pertanian tersebut berhasil diolah menjadi biomass pellet dan cocopeat.

Kegiatan ini mengusung judul “Pemanfaatan Limbah Kelapa Berbasis Teknologi Tepat Guna dalam Produksi Biomassa Pellet dan Cocopeat serta Penguatan Pemasaran Digital guna Meningkatkan Pendapatan Kelompok Tani Kelapa Lestari."

Program tersebut menjadi upaya untuk mendorong pemanfaatan potensi perkebunan kelapa sekaligus mengubah limbah pertanian menjadi produk baru yang memiliki nilai jual.

Desa Karangsari dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi ekonomi produktif berbasis pertanian.

Selain padi sebagai salah satu komoditas andalan, kelapa menjadi komoditas perkebunan utama masyarakat.

Potensi tersebut turut dikelola oleh Kelompok Tani Kelapa Lestari yang beranggotakan 10 orang petani, dengan total luas lahan sekitar 1,3 hektare dan kapasitas produksi mencapai 1.200 buah kelapa setiap dua bulan.

Besarnya aktivitas produksi kelapa tersebut menghasilkan limbah berupa serabut dan batok kelapa. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menjadi persoalan lingkungan.

Melalui program pengabdian ini, limbah kelapa diarahkan untuk diolah menjadi biomassa pellet dan cocopeat, sehingga tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok tani.

Tim pengabdian yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Dimas Triardianto, S.T., M.Sc., Elok Kurnia Novita Sari, S.TP., M.P., dan Amellia Dwi Rizkiyana, S.T., M.Eng.

“Program ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan limbah, tetapi juga bagaimana limbah kelapa dapat dikonversi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi kelompok tani,” ujar Dimas Triardianto, S.T., M.Sc., selaku tim pengabdian, Kamis 20 Agustus 2026.

Tak hanya itu, untuk mendukung proses produksi, tim pengabdian telah menyerahkan sejumlah teknologi tepat guna kepada Kelompok Tani Kelapa Lestari.

Peralatan tersebut meliputi satu unit mesin pemecah dan pengurai batok serta serabut kelapa, satu unit mesin penghalus, serta satu unit mesin ekstruder biomassa pellet.

Kehadiran peralatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses pengolahan bahan baku, mulai dari penghancuran limbah kelapa hingga pembentukan biomassa pellet.

Teknologi tepat guna juga dirancang agar dapat dioperasikan oleh anggota kelompok sehingga proses produksi dapat dilanjutkan secara mandiri setelah program pendampingan selesai.

Selain penyediaan peralatan, kegiatan juga diisi dengan sosialisasi dan pelatihan teknis pembuatan biomassa pellet.

Anggota kelompok mendapatkan pengetahuan mengenai pemilahan dan persiapan bahan baku, proses pengolahan, hingga tahapan produksi biomassa pellet.

Program ini juga mencakup pendampingan penyusunan model bisnis untuk produk biomassa pellet dan cocopeat.

Pendampingan tersebut diarahkan agar kelompok tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami aspek usaha, segmentasi pasar, strategi penjualan, serta peluang pengembangan produk berbasis limbah kelapa.

Penguatan kapasitas kelompok turut dilengkapi dengan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan biomassa pellet dan cocopeat.

SOP tersebut menjadi pedoman bagi anggota kelompok untuk menjaga keteraturan proses produksi dan menghasilkan produk secara lebih konsisten.

“Yang kami dorong adalah terbentuknya rantai usaha yang berkelanjutan. Mulai dari pemanfaatan limbah, penggunaan teknologi tepat guna, peningkatan keterampilan produksi, sampai dengan pemasaran produk secara digital,” tambah

Elok Kurnia Novita Sari, S.TP., M.P.

Aspek pemasaran menjadi bagian penting dalam program ini. Produk biomassa pellet dan cocopeat yang dihasilkan tidak hanya diarahkan untuk dipasarkan secara konvensional, tetapi juga diperkenalkan melalui pemasaran berbasis digital.

Strategi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar, memperkenalkan produk kepada calon konsumen di luar wilayah desa, serta membangun identitas produk Kelompok Tani Kelapa Lestari.

Melalui integrasi teknologi produksi dan pemasaran digital, kelompok tani diharapkan mampu mengembangkan usaha baru yang berbasis pada potensi lokal.

Limbah yang sebelumnya kurang bernilai dapat diolah menjadi komoditas yang memiliki peluang pasar sekaligus memberikan manfaat lingkungan.

Hal senada disampaikan Amellia Dwi Rizkiyana, S.T., M.Eng.,sebagai anggota tim pengabdian, bahwa keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian utama.

Menurutnya, keberadaan mesin dan SOP perlu diikuti dengan kemampuan kelompok dalam mengelola produksi dan pemasaran secara mandiri.

“Teknologi yang diberikan harus benar-benar menjadi bagian dari aktivitas usaha kelompok. Karena itu, pelatihan dan pendampingan dilakukan agar anggota kelompok memiliki kemampuan untuk mengoperasikan peralatan, menjalankan proses produksi sesuai SOP, serta mengembangkan pemasaran produknya,” jelasnya.

Kegiatan pengabdian ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi Kelompok Tani Kelapa Lestari, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa.

Dengan memanfaatkan serabut dan batok kelapa sebagai bahan baku biomassa pellet dan cocopeat, kelompok tani memiliki alternatif produk baru di luar penjualan kelapa.

Program tersebut sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular berbasis potensi lokal, yaitu mengubah residu hasil pertanian menjadi produk yang dapat digunakan kembali dan memiliki nilai ekonomi.

Dengan dukungan teknologi tepat guna, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemasaran digital, limbah kelapa di Desa Karangsari diharapkan tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya dan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan teknologi tepat guna, pengolahan limbah pertanian, pengembangan produk, dan pemasaran digital untuk mendukung peningkatan pendapatan serta kemandirian ekonomi kelompok tani.

RRI.CO.ID, Jember- Limbah kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal mulai dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

Kegiatan ini mengusung judul “Pemanfaatan Limbah Kelapa Berbasis Teknologi Tepat Guna dalam Produksi Biomassa Pellet dan Cocopeat serta Penguatan Pemasaran Digital guna Meningkatkan Pendapatan Kelompok Tani Kelapa Lestari."

Program tersebut menjadi upaya untuk mendorong pemanfaatan potensi perkebunan kelapa sekaligus mengubah limbah pertanian menjadi produk baru yang memiliki nilai jual.

Desa Karangsari dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi ekonomi produktif berbasis pertanian.

Selain padi sebagai salah satu komoditas andalan, kelapa menjadi komoditas perkebunan utama masyarakat.

Potensi tersebut turut dikelola oleh Kelompok Tani Kelapa Lestari yang beranggotakan 10 orang petani, dengan total luas lahan sekitar 1,3 hektare dan kapasitas produksi mencapai 1.200 buah kelapa setiap dua bulan.

Besarnya aktivitas produksi kelapa tersebut menghasilkan limbah berupa serabut dan batok kelapa. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menjadi persoalan lingkungan.

Melalui program pengabdian ini, limbah kelapa diarahkan untuk diolah menjadi biomassa pellet dan cocopeat, sehingga tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok tani.

Tim pengabdian yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Dimas Triardianto, S.T., M.Sc., Elok Kurnia Novita Sari, S.TP., M.P., dan Amellia Dwi Rizkiyana, S.T., M.Eng.

“Program ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan limbah, tetapi juga bagaimana limbah kelapa dapat dikonversi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi kelompok tani,” ujar Dimas Triardianto, S.T., M.Sc., selaku tim pengabdian, Kamis 20 Agustus 2026.

Tak hanya itu, untuk mendukung proses produksi, tim pengabdian telah menyerahkan sejumlah teknologi tepat guna kepada Kelompok Tani Kelapa Lestari.

Peralatan tersebut meliputi satu unit mesin pemecah dan pengurai batok serta serabut kelapa, satu unit mesin penghalus, serta satu unit mesin ekstruder biomassa pellet.

Kehadiran peralatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses pengolahan bahan baku, mulai dari penghancuran limbah kelapa hingga pembentukan biomassa pellet.

Teknologi tepat guna juga dirancang agar dapat dioperasikan oleh anggota kelompok sehingga proses produksi dapat dilanjutkan secara mandiri setelah program pendampingan selesai.

Selain penyediaan peralatan, kegiatan juga diisi dengan sosialisasi dan pelatihan teknis pembuatan biomassa pellet.

Anggota kelompok mendapatkan pengetahuan mengenai pemilahan dan persiapan bahan baku, proses pengolahan, hingga tahapan produksi biomassa pellet.

Program ini juga mencakup pendampingan penyusunan model bisnis untuk produk biomassa pellet dan cocopeat.

Pendampingan tersebut diarahkan agar kelompok tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami aspek usaha, segmentasi pasar, strategi penjualan, serta peluang pengembangan produk berbasis limbah kelapa.

Penguatan kapasitas kelompok turut dilengkapi dengan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan biomassa pellet dan cocopeat.

SOP tersebut menjadi pedoman bagi anggota kelompok untuk menjaga keteraturan proses produksi dan menghasilkan produk secara lebih konsisten.

“Yang kami dorong adalah terbentuknya rantai usaha yang berkelanjutan. Mulai dari pemanfaatan limbah, penggunaan teknologi tepat guna, peningkatan keterampilan produksi, sampai dengan pemasaran produk secara digital,” tambah

Elok Kurnia Novita Sari, S.TP., M.P.

Aspek pemasaran menjadi bagian penting dalam program ini. Produk biomassa pellet dan cocopeat yang dihasilkan tidak hanya diarahkan untuk dipasarkan secara konvensional, tetapi juga diperkenalkan melalui pemasaran berbasis digital.

Strategi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar, memperkenalkan produk kepada calon konsumen di luar wilayah desa, serta membangun identitas produk Kelompok Tani Kelapa Lestari.

Melalui integrasi teknologi produksi dan pemasaran digital, kelompok tani diharapkan mampu mengembangkan usaha baru yang berbasis pada potensi lokal.

Limbah yang sebelumnya kurang bernilai dapat diolah menjadi komoditas yang memiliki peluang pasar sekaligus memberikan manfaat lingkungan.

Amellia Dwi Rizkiyana, S.T., M.Eng.,sebagai anggota tim pengabdian, menyampaikan bahwa keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian utama.

Menurutnya, keberadaan mesin dan SOP perlu diikuti dengan kemampuan kelompok dalam mengelola produksi dan pemasaran secara mandiri.

“Teknologi yang diberikan harus benar-benar menjadi bagian dari aktivitas usaha kelompok. Karena itu, pelatihan dan pendampingan dilakukan agar anggota kelompok memiliki kemampuan untuk mengoperasikan peralatan, menjalankan proses produksi sesuai SOP, serta mengembangkan pemasaran produknya,” jelasnya.

Kegiatan pengabdian ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi Kelompok Tani Kelapa Lestari, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa.

Dengan memanfaatkan serabut dan batok kelapa sebagai bahan baku biomassa pellet dan cocopeat, kelompok tani memiliki alternatif produk baru di luar penjualan kelapa.

Program tersebut sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular berbasis potensi lokal, yaitu mengubah residu hasil pertanian menjadi produk yang dapat digunakan kembali dan memiliki nilai ekonomi.

Dengan dukungan teknologi tepat guna, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemasaran digital, limbah kelapa di Desa Karangsari diharapkan tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya dan peluang usaha baru bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....