Petani Jember Dilatih Olah Cabai untuk Tingkatkan Nilai Jual

  • 14 Agt 2026 15:33 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Sejumlah petani di Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, mendapat pelatihan pengolahan cabai rawit menjadi produk dengan nilai tambah.

Kegiatan tersebut digelar melalui program Pengabdian kepada Masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Jember serta Universitas Jember.

Pelatihan tersebut mengajarkan kelompok tani mengolah cabai rawit menjadi cabai kering, cabai bubuk, dan saus cabai.

Diversifikasi ini diharapkan dapat menjadi solusi ketika harga cabai turun saat musim panen sekaligus memperpanjang masa simpan komoditas.

Tim dosen yang diketuai oleh Irene Ratri Andia Sasmita, dengan anggota Mohammad Mardiyanto dan Septy Handayani.

Ketua Tim PKM, Irene Ratri Andia Sasmita, mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama enam bulan, mulai Mei hingga Oktober 2026.

Selain keterampilan pengolahan, petani juga mendapat pelatihan manajemen keuangan, pemasaran digital, sanitasi dan higiene, pengemasan, pelabelan, hingga pendampingan perizinan PIRT.

‎‎"Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat melatih kelompok masyarakat terutama kelompok tani untuk berinovasi mengembangkan usaha sehingga dapat meningkatkan nilai jual cabai demi kesejahteraan petani," ujarnya, Jumat (14/8/2026).

‎‎Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui hibah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Rangkaian kegiatan ini akan dilaksanakan secara sistematis melalui beberapa tahapan. Sosialisasi dan pelatihan pembuatan olahan cabai, pelatihan manajemen keuangan, dan pemasaran digital produk serta pendampingan PIRT.

Sosialisasi dan Pelatihan, diawali dengan penyampaian materi mengenai potensi cabai sebagai komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun rentan mengalami penurunan harga saat panen raya.

Melalui diversifikasi produk menjadi cabai kering, cabai bubuk dan saus cabai, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pengolahan yang dapat memperpanjang masa simpan produk sekaligus meningkatkan nilai jual.

Kemudian dilakukan praktik pembuatan cabai kering, cabai bubuk, dan saos cabai. Selain keterampilan teknis, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai sanitasi dan higiene selama proses produksi.

Kemudian juga penggunaan kemasan yang sesuai, pelabelan produk, serta peluang pemasaran produk olahan cabai. Selain itu, juga dilakukan pelatihan manajemen keuangan dan pendampingan PIRT.

“Materi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha pangan skala rumah tangga yang aman, berkualitas, dan memiliki daya saing,” katanya.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan dan diskusi muncul terkait teknik pengolahan, pemilihan bahan baku yang baik, serta strategi menjaga mutu produk selama penyimpanan.

Selain itu, keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendukung pemanfaatan komoditas lokal.

“Pendampingan ini sangat membantu kami para petani untuk mengembangkan usaha, apalagi ketika harga cabai turun. Sehingga menjadikan cabai jadi produk olahan cabai bubuk, kering dan saos cabai merupakan solusi yang tepat,” kata Ketua Kelompok Tani, Bagus.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, diharapkan terjalin kerja sama yang berkesinambungan antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi pengolahan pangan berbasis potensi lokal.

Selanjutnya, pendampingan akan diarahkan pada pelatihan pencatatan keuangan, perizinan produk, dan pemasaran produk serta strategi pemasaran agar produk olahan cabai mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....