Monyet Turun Gunung, Alarm Kerusakan Habitat di Lumajang
- 13 Agt 2026 18:13 WIB
- Jember
Poin Utama
- Monyet Ekor Panjang
- Keseimbangan Ekosistem
RRI.CO.ID,Lumajang – Serangan monyet ekor panjang terhadap tanaman warga di Kabupaten Lumajang semakin meluas. Hingga kini, sedikitnya 11 kecamatan yang berada di sekitar kawasan pegunungan dan hutan dilaporkan terdampak.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Lumajang, Waspodo Budi Prayitno, SP, mengatakan wilayah terdampak tersebar mulai dari Ranuyoso, Klakah, Kedungjajang, Senduro, Gucialit, Pasrujambe, Candipuro, Pronojiwo, Tempursari, hingga Pasirian.
Menurut Waspodo, fenomena tersebut tidak semata-mata merupakan gangguan satwa terhadap pertanian warga. Turunnya monyet dari kawasan hutan justru menjadi indikasi semakin terbatasnya sumber makanan di habitat alami mereka.
“Kalau kita lihat dari hasil pengamatan, rata-rata mereka, monyet ekor panjang ini kelaparan. Mengapa mereka kelaparan? Karena terus terang hutannya sudah gundul,” ujar Waspodo, Kamis 13 Agustus 2026.
Kondisi tersebut semakin berat selama musim kemarau. Sumber makanan dan air di kawasan hutan semakin terbatas sehingga monyet turun ke wilayah pertanian dan permukiman untuk mencari makanan.
Waspodo bahkan menyebut, di sejumlah lokasi, monyet tidak hanya merusak tanaman, tetapi telah masuk hingga ke rumah warga. “Di beberapa daerah, informasi dari masyarakat itu sampai masuk ke dapur-dapur rumah,” katanya.
Monyet juga turun secara berkelompok dalam jumlah besar. Menurut Waspodo, satu kelompok dapat terdiri dari puluhan hingga sekitar seratus ekor.
Pola kedatangan tersebut umumnya terjadi dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Monyet mencari tanaman yang mengandung air, buah-buahan, maupun sumber makanan lain yang masih tersedia.
Kondisi kelaparan itu, lanjut Waspodo, terlihat dari perilaku monyet yang bahkan memakan rumput. Hal tersebut menunjukkan semakin terbatasnya sumber pangan di habitat asalnya. “Jadi intinya itu mereka kelaparan. Kondisinya di atas atau habitatnya sudah kering, sudah tidak ada makanan. Jadi mereka turun untuk mencari makan,” jelasnya.
Dampaknya mulai dirasakan petani. Sejumlah tanaman pangan, hortikultura hingga tanaman perkebunan mengalami kerusakan akibat serangan monyet, termasuk ketela, pisang, kedelai, pohon sengon dan berbagai tanaman lainnya.
Waspodo menilai persoalan tersebut perlu dilihat lebih jauh sebagai persoalan kerusakan habitat dan keseimbangan ekosistem, bukan sekadar gangguan hama terhadap tanaman pertanian.
Fenomena monyet turun ke permukiman menjadi pengingat bahwa ketika sumber makanan di hutan semakin berkurang, satwa liar akan mencari sumber penghidupan baru di luar habitatnya. Pada akhirnya, kondisi tersebut memperbesar potensi konflik antara satwa liar dengan manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....