Kemenag Bondowoso Intensifkan Sosialisasi Rashdul Kiblat

  • 06 Agt 2026 17:55 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bondowoso terus mengintensifkan sosialisasi pengukuran arah kiblat melalui metode Rashdul Kiblat, yakni memanfaatkan posisi matahari saat berada tepat di atas Ka'bah. Pada 2026, kegiatan tersebut telah dilaksanakan dua kali, masing-masing pada 27–28 Mei dan 15–16 Juli.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Bondowoso, Suharyono, menjelaskan bahwa fenomena matahari tepat berada di atas Ka'bah hanya terjadi dua kali dalam setahun. Momentum tersebut menjadi waktu paling akurat untuk mengecek sekaligus meluruskan arah kiblat.

"Secara hisab, ketika matahari berada tepat di atas Ka'bah, bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah langsung ke Ka'bah. Pada Mei waktunya pukul 16.27 WIB, sedangkan Juli pukul 16.17 WIB," ujar Suharyono.

Dalam pelaksanaannya, Kemenag Bondowoso membagi tugas kepada penghulu dan penyuluh agama di seluruh Kantor Urusan Agama (KUA). Hari pertama dimanfaatkan untuk sosialisasi kepada masyarakat, sedangkan hari kedua digunakan untuk praktik pengukuran arah kiblat secara langsung.

"Kami juga melakukan pengukuran pembangunan musala di kawasan Perumahan Pesona Ijen. Para penghulu dan penyuluh kami sebar ke berbagai wilayah agar masyarakat bisa mempraktikkan langsung," katanya.

Menurut Suharyono, hingga kini sekitar 1.000 titik di Kabupaten Bondowoso telah mengikuti kegiatan tersebut. Pengukuran tidak hanya dilakukan di masjid dan musala, tetapi juga di makam serta rumah-rumah warga yang ingin memastikan arah kiblat bangunannya.

Ia menjelaskan, metode Rashdul Kiblat cukup sederhana dan dapat dilakukan masyarakat tanpa menggunakan peralatan yang rumit.

"Metodenya sangat sederhana. Cukup menggunakan benang dan bandul, bisa dari batu atau kayu. Yang penting benda itu tegak dan tidak bergerak. Ketika dilakukan pada jam yang tepat, bayangan benang akan mengarah ke Ka'bah," jelasnya.

Selain melibatkan petugas Kemenag, masyarakat juga didorong untuk melakukan pengecekan arah kiblat secara mandiri setelah mendapatkan pembekalan. Sosialisasi bahkan telah diperluas ke kalangan pelajar Madrasah Aliyah.

Hingga saat ini, sekitar 3.000 akun telah terdaftar untuk mengikuti pembelajaran dan praktik pengukuran arah kiblat secara mandiri.

"Anak-anak Madrasah Aliyah sudah kami bekali cara mengukur arah kiblat, dengan metode yang sederhana agar mereka bisa mempraktikkannya sendiri," ujarnya.

Suharyono menambahkan, Rashdul Kiblat sebenarnya tidak hanya dapat dilakukan saat matahari tepat berada di atas Ka'bah. Pengukuran juga dapat dilakukan setiap hari dengan berpedoman pada jadwal Rashdul Kiblat yang diterbitkan Bimas Islam Kemenag Bondowoso.

Berdasarkan hasil pendampingan selama beberapa tahun terakhir, Kemenag Bondowoso masih menemukan sejumlah masjid yang arah kiblatnya belum tepat. Namun, perbaikannya umumnya cukup dilakukan dengan menggeser arah saf salat tanpa harus membongkar bangunan.

"Bangunannya tidak perlu dibongkar. Yang diperbaiki hanya arah saf sehingga salat tetap menghadap kiblat secara benar," ujarnya.

Ia menjelaskan, kesalahan yang paling sering ditemukan terjadi pada masjid-masjid lama yang dibangun dengan orientasi tepat ke arah barat atau 270 derajat. Padahal, arah kiblat di Bondowoso berada pada azimut sekitar 293 derajat 55 menit atau dibulatkan menjadi 294 derajat, sehingga perlu bergeser sekitar 23 derajat ke arah utara dari barat.

"Kalau lurus ke barat justru arahnya menuju Afrika, bukan ke Ka'bah. Untuk Bondowoso arah kiblat sekitar 294 derajat. Jadi tidak cukup hanya menghadap barat," tegasnya.

Sebagai contoh, Suharyono menyebut hasil evaluasi di Masjid Agung Bondowoso. Berdasarkan pengukuran ulang, ditemukan selisih sekitar 1–2 derajat pada lantai lama. Karena itu, saat pembangunan lantai dua dilakukan penyesuaian arah saf dan pemasangan keramik agar lebih presisi menghadap Ka'bah.

Menurutnya, anggapan bahwa arah kiblat cukup menghadap ke barat masih berkembang di tengah masyarakat dan perlu terus diluruskan melalui edukasi yang berkelanjutan.

"Ini menjadi tugas bersama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa arah kiblat bukan sekadar ke barat, tetapi harus benar-benar mengarah ke Ka'bah. Diduga ada doktrin Belanda. Karena itu sosialisasi terus kami lakukan, mulai dari masyarakat umum, madrasah hingga pondok pesantren," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....