Enam Kilometer Firman menuju Harapan Bersama Sekolah Rakyat
- 25 Jun 2026 14:17 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember : Suara langkah kaki itu memecah sunyi pagi di Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur.Setiap hari, sebelum ayam berkokok untuk kedua kalinya, Muhammad Firman telah memulai perjalanan panjang menuju salah satu SMP negeri di wilayahnya. Jalan tanah, aspal panas, debu kendaraan, hingga terik matahari menjadi teman akrabnya selama hampir satu tahun.
"Sejak awal kelas VIII hingga semester kedua saya berjalan kaki ke sekolah setiap hari. Saya sering merasa sangat lelah. Ketika sampai di rumah, saya mudah merasa kesal dan marah karena kelelahan, ditambah lagi pelajaran di sekolah cukup banyak sehingga membuat saya pusing," ujar Firman, Rabu, 24 Juni 2026.
Enam kilometer merupakan jarak yang mungkin hanya membutuhkan waktu belasan menit jika ditempuh menggunakan sepeda motor. Namun bagi Firman yang saat itu berusia 14 tahun, jarak tersebut menjadi perjalanan panjang yang harus dilalui setiap hari demi mempertahankan sekolahnya.Meski berat, Firman terus berjalan. Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan keluarganya.
Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya. Firman berangkat tanpa sarapan yang layak. Kadang ia membawa bekal seadanya jika di rumah tersedia lauk untuk dibawa. Jika tidak ada, ia hanya membawa harapan agar rasa lapar tidak datang terlalu cepat.
Uang sakunya hanya Rp5 ribu. Kadang ada, tetapi lebih sering tidak ada sama sekali. Ketika jam istirahat tiba dan teman-temannya menikmati bekal atau membeli makanan di kantin, Firman memilih diam di dalam kelas.
"Anggap saja sedang puasa. Dari jam 07.00 pagi sampai pulang jam 14.00 WIB," katanya.
Ayah Firman, Helli, bekerja mencari bekicot pada malam hari. Berbekal senter dan karung kecil, ia menyusuri pematang sawah untuk mencari bekicot yang kemudian dijual kepada pengepul. Penghasilannya sangat bergantung pada cuaca dan hasil tangkapan setiap malam. Sementara itu, ibunya, Mariana, bekerja sebagai juru parkir sepeda di arena sabung ayam. Dari pagi hingga menjelang magrib, ia menjaga kendaraan para pengunjung dengan penghasilan yang tidak menentu.
Mariana masih mengingat saat putranya memutuskan berhenti sekolah.
"Saat itu kami tidak memiliki uang untuk membeli bensin sehingga Firman harus berjalan kaki ke sekolah setiap hari. Lama-kelamaan ia merasa kelelahan, hingga suatu hari ia berkata kepada saya, 'Bu, saya tidak mau sekolah lagi'," tutur Mariana.
Kedua orang tua Firman bekerja keras untuk menghidupi Firman dan dua adiknya yang masih kecil. Namun, kerja keras tidak selalu cukup untuk mengalahkan kemiskinan. Sering kali, pendidikan menjadi satu-satunya jalan untuk memutus rantai kemiskinan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Firman memahami hal itu. Namun tubuhnya tidak lagi sanggup menanggung perjalanan panjang setiap hari.
Kelelahan, rasa lapar, risiko kecelakaan di jalan, hingga ejekan dari teman-temannya menjadi bagian dari keseharian Firman selama bersekolah. Beban itu perlahan mengikis semangatnya hingga akhirnya ia memutuskan berhenti sekolah.
Pilihan yang seharusnya tidak pernah dihadapi seorang anak seusianya.
Setelah putus sekolah, Firman memilih bekerja sebagai buruh tani untuk membantu perekonomian keluarga. Di usia 14 tahun, ketika seharusnya masih duduk di bangku sekolah, ia justru menghabiskan waktunya di sawah membantu orang tua mengangkat hasil panen. Ia bekerja dari pagi hingga siang dengan upah sekitar Rp20 ribu per hari.
Meski telah memasuki dunia kerja, keinginan untuk kembali bersekolah tidak pernah benar-benar hilang. Ia merindukan belajar dan merindukan mengenakan seragam sekolah.
"Saya sering menangis malam-malam karena ingin sekolah lagi," tutur Firman.
Titik balik dalam hidup Firman datang melalui Sekolah Rakyat. Program ini membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berisiko putus sekolah.
Saat mengetahui adanya kesempatan tersebut, Firman langsung meminta izin kepada ibunya untuk kembali melanjutkan pendidikan.
"Saya bilang ke ibu, saya ingin sekolah lagi. Saya ingin masuk Sekolah Rakyat supaya bisa melanjutkan pendidikan. Awalnya ibu khawatir soal biaya, tapi saya tetap ingin mencoba karena saya masih ingin belajar," kenang Firman.
Firman kemudian meyakinkan ibunya agar tidak khawatir mengenai biaya karena terdapat bantuan melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Setelah itu, Mariana menyampaikan keinginan putranya kepada ketua RT dan pendamping PKH untuk membantu proses pendaftaran ke Sekolah Rakyat.
Kehidupan Firman berubah setelah masuk Sekolah Rakyat Jember.
Tinggal di asrama membuatnya tidak lagi memikirkan biaya transportasi, kebutuhan makan, maupun perlengkapan sekolah. Ia kini dapat fokus pada satu hal, yaitu belajar. Di lingkungan barunya, kemampuan Firman mulai terlihat.
Wali asuhnya, Fazrul, menilai Firman sebagai anak yang disiplin dan memiliki jiwa kepemimpinan. Ia kerap membangunkan teman-temannya untuk salat berjamaah, mengajak mereka menjaga kebersihan kamar, serta aktif membantu teman-temannya di asrama.
"Firman memiliki jiwa kepemimpinan yang cukup kuat. Ketika ada teman-temannya yang belum bangun untuk salat, ia berinisiatif membangunkan mereka agar bisa salat berjamaah bersama. Ia juga aktif mengajak teman-temannya menjaga kebersihan kamar dan sering mengingatkan mereka untuk membersihkan lingkungan asrama bersama-sama," ujar Fazrul.
Perkembangan Firman di Sekolah Rakyat berlangsung cepat.Anak yang semula pemalu itu berubah menjadi siswa yang aktif di kelas, mudah bergaul, dan berani menyampaikan pendapat. Wali kelasnya, Qorina, melihat potensi besar dalam diri Firman, terutama di bidang sains.
Dalam waktu enam bulan, Firman berhasil meraih peringkat ketiga di kelas meski sempat tertinggal pelajaran hampir satu tahun. Ia juga direkomendasikan mengikuti Olimpiade IPA karena memiliki prestasi akademik yang menonjol pada mata pelajaran tersebut.
"Meskipun sempat tertinggal pelajaran hampir satu tahun, dalam waktu enam bulan Firman berhasil meraih peringkat tiga di kelas. Karena prestasinya di mata pelajaran IPA cukup menonjol, kami juga merekomendasikannya untuk mengikuti Olimpiade IPA," ujar Qorina.
Anak yang dahulu berjalan kaki sejauh enam kilometer untuk bersekolah itu kini dipersiapkan mengikuti Olimpiade IPA.
Perjalanan Firman menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga miskin tidak kekurangan kemampuan. Yang sering kali kurang adalah kesempatan.
Kisah Firman menjadi pengingat bahwa hambatan terbesar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu bukanlah rendahnya kemampuan atau minimnya semangat belajar, melainkan terbatasnya akses terhadap pendidikan yang layak.
Ketika kesempatan itu hadir, mereka mampu berkembang dan berprestasi seperti anak-anak lainnya.Sekolah Rakyat hadir untuk membuka kesempatan tersebut. Program ini tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Firman menjadi salah satu buktinya.Anak yang sempat putus sekolah karena keterbatasan ekonomi kini kembali belajar, berprestasi, dan memiliki harapan baru untuk masa depannya.Kini Firman bercita-cita menjadi seorang guru. Ia ingin mengajar dan membantu anak-anak lain agar tidak mengalami kesulitan yang pernah ia rasakan. Ia juga berharap dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya di masa depan.
Perjalanan menuju cita-cita itu memang masih panjang. Namun kini Firman memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh melalui pendidikan yang diperolehnya di Sekolah Rakyat.Enam kilometer yang dahulu menjadi alasan dirinya berhenti sekolah kini berubah menjadi simbol perjuangan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kisah Firman menunjukkan bahwa memuliakan the invisible people bukan sekadar membantu mereka keluar dari kesulitan, tetapi juga membuka akses dan kesempatan agar mereka dapat menentukan masa depannya sendiri. Ketika seorang anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang, yang tumbuh bukan hanya harapan bagi dirinya dan keluarganya, tetapi juga harapan bagi masa depan bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....