Pelatihan Akarku KUBIK 2.0 Dorong Kemandirian Pemuda Disabilitas
- 23 Jun 2026 01:43 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Program Kelompok Usaha Bisnis Inklusif (KUBIK) 2.0 menggelar Pelatihan Social Emotional Learning (SEL) bertajuk “Akarku” di Kabupaten Jember, pada Kamis (18/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Bersama Sentra Ramah Lansia dan Difabel MWCNU Ledokombo itu, diikuti orang muda penyandang disabilitas (OMD) dan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK).
Selain membekali peserta dengan keterampilan sosial emosional, pelatihan itu juga menjadi langkah awal program pemberdayaan yang akan berlangsung selama tiga tahun ke depan guna mendorong kemandirian ekonomi peserta.
Program KUBIK 2.0 dikembangkan oleh Tanoker Ledokombo dengan pendekatan Wheel of Livelihoods, yang menggabungkan penguatan kapasitas diri, keterampilan sosial, dan pengembangan usaha secara bertahap.
Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Jember, Wiwik Supartiwi, mengapresiasi pelaksanaan program itu. Tidak hanya berfokus pada pengembangan usaha, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan emosional.
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi tidak cukup hanya melalui pelatihan keterampilan dan akses permodalan. Tapi juga harus dibarengi dengan penguatan rasa percaya diri dan kemampuan mengenali potensi diri.
“Orang muda penyandang disabilitas dan OYPMK memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berwirausaha, dan berkontribusi bagi masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas diri menjadi penting dalam proses pemberdayaan,” ujarnya.
Direktur Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek, menjelaskan bahwa penguatan sosial emosional menjadi fondasi utama sebelum peserta memasuki tahap pengembangan usaha.
Menurutnya, pemahaman terhadap diri sendiri, kemampuan mengelola emosi, serta keyakinan terhadap potensi yang dimiliki akan membantu peserta lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan maupun dunia usaha.
“Kami ingin peserta mengenali kekuatan yang mereka miliki dan membangun kepercayaan diri sebagai modal untuk berkembang,” katanya.
Dalam sesi perdana tersebut, peserta mengikuti berbagai kegiatan interaktif yang mengangkat tema rasa aman, pengenalan diri, serta identifikasi kekuatan pribadi.
Metode yang digunakan meliputi refleksi diri, diskusi kelompok, permainan partisipatif, dan berbagi pengalaman.
Panitia juga memastikan seluruh kegiatan berlangsung dengan prinsip inklusif melalui penyediaan berbagai dukungan aksesibilitas sesuai kebutuhan peserta, termasuk pendampingan dan fasilitas komunikasi yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Melalui program KUBIK 2.0, Tanoker bersama para mitra berharap dapat membangun ekosistem usaha yang lebih inklusif sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha muda yang mandiri, produktif, dan memiliki ketahanan sosial emosional yang baik.
Program tersebut juga diharapkan mampu mencetak agen perubahan yang dapat berkontribusi positif bagi keluarga maupun komunitasnya di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....