Perkins International Jadikan Banyuwangi Studi Kasus Pendidikan Inklusif

  • 04 Jun 2026 11:39 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi – Lembaga pendidikan global Perkins International menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus penerapan daerah inklusif dalam lokakarya internasional yang digelar lembaga tersebut. Hal ini seirirng Komitmen Banyuwangi dalam mewujudkan pendidikan inklusif di wilayah setempat.

Lokakarya bertajuk “Perencanaan Strategis Pengembangan Anak Usia Dini yang Inklusif” digelar di Banyuwangi dan diikuti peserta lintas sektor dari pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah.

Peserta berasal dari sejumlah instansi seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Komisi Nasional Disabilitas, hingga organisasi perangkat daerah di Banyuwangi.

Direktur Program Perkins wilayah Asia Pasifik, Ami Tango Limketkai, mengatakan Banyuwangi dinilai memiliki komitmen kuat dalam membangun pelayanan inklusif bagi anak-anak dan penyandang disabilitas.

“Banyuwangi sangat istimewa. Daerah ini memiliki kepemimpinan yang benar-benar berpikiran inklusif dan terbuka terhadap perubahan yang berdampak nyata bagi kehidupan keluarga dan anak-anak, khususnya penyandang disabilitas,” ujar Ami saat pembukaan lokakarya di Aula Café & Resto Bale Saji, Kecamatan Kabat, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut Ami, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas di Banyuwangi juga menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan pendidikan inklusif.

“Kami berharap Banyuwangi dapat menjadi kabupaten percontohan di masa depan,” kata Ami.

Kerja sama antara Perkins International dan Pemkab Banyuwangi telah berlangsung cukup lama, terutama dalam pengembangan pendidikan disabilitas dan peningkatan kapasitas guru Sekolah Luar Biasa (SLB).

Melalui program Sekolah Model, sebanyak 170 guru SLB di Banyuwangi telah mendapatkan pelatihan strategi pengajaran, manajemen kelas, penanganan autis, bahasa isyarat, hingga dasar fisioterapi.

Lokakarya yang berlangsung selama 3-4 Juni 2026 tersebut juga diisi diskusi dan observasi langsung ke sejumlah sekolah model dan puskesmas di Banyuwangi.

Sementara itu, Ipuk Fiestiandani mengapresiasi dipilihnya Banyuwangi sebagai tuan rumah sekaligus objek studi kasus dalam kegiatan internasional tersebut.

“Kami sangat mendukung dan siap menjadi living lab untuk kegiatan ini. Semoga bisa menghasilkan rencana aksi yang menjadi dasar pengambilan kebijakan pengembangan anak usia dini di tingkat nasional maupun daerah,” ujar Ipuk.

Ipuk menambahkan Pemkab Banyuwangi terus berupaya menghadirkan lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas melalui program sekolah inklusi dan penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD). Selain itu, Banyuwangi juga rutin menggelar berbagai kegiatan yang menjadi ruang berekspresi bagi anak-anak disabilitas, salah satunya melalui festival Kita Bisa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....