Pegiat Seni Jember Bangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal
- 27 Mei 2026 18:03 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember — Sektor seni dan budaya tradisional kini mulai berkembang menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi kreatif daerah. Di tengah transformasi digital, para pegiat seni di Kabupaten Jember memanfaatkan potensi budaya lokal untuk membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat identitas daerah.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kolaborasi sejumlah komunitas kreatif yang tergabung dalam Jember Creative Center atau JCC. Mereka membangun sinergi lintas subsektor mulai dari seni pertunjukan, perfilman, hingga musik untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Founder Tiga Taring Kolektif, Wisnu Saga, mengatakan seni pertunjukan memiliki keterkaitan erat dengan nilai ekonomi karena mampu menciptakan nilai tambah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“Basis ekonomi tidak lepas dari seni pertunjukan. Semua yang baik di luar panggung ataupun di atas panggung harus menunjukkan perform yang bagus agar punya value ekonomi,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam dialog khusus di Studio Pro 1 RRI Jember, Senin (25/5/2026).
Salah satu subsektor yang berkembang pesat ialah perfilman lokal melalui wadah Layar Siswa. Founder Layar Siswa, Bayu Pradana, menjelaskan komunitas tersebut lahir dari keresahannya melihat banyak karya film pendek pelajar Jember yang tidak mendapatkan ruang apresiasi memadai.
Melalui program tersebut, karya film pelajar dari tingkat SD hingga SMA ditayangkan langsung di bioskop komersial agar mendapat pengalaman pemutaran yang lebih profesional. Menurut Bayu, langkah tersebut mendapat respons positif dari masyarakat dan orang tua pelajar.
Selain itu, Layar Siswa juga akan bekerja sama dengan Jogja Film Academy pada 29 hingga 30 Mei 2026 untuk menggelar sesi berbagi tentang produksi film sekaligus membuka peluang beasiswa bagi pelajar Jember.
Di bidang seni pertunjukan tradisional, revitalisasi budaya lokal dilakukan oleh Sanggar Mandala Kertawijaya. Perwakilan sanggar, Anggara Wijayanto, menyebut pihaknya berupaya mengemas kembali ritus tradisional seperti Sandurelang dan Sandur Tanen menjadi pertunjukan yang lebih menarik bagi generasi muda maupun wisatawan.
Sementara itu, subsektor musik turut menunjukkan geliat ekonomi kreatif melalui NSI Music Management. Pimpinan manajemen, Widiartomo, berhasil menghadirkan Nostalgic Song Community (NSC) yang mempertemukan 17 komunitas pecinta lagu lawas se-Tapal Kuda dalam sebuah pertunjukan di Gedung Jember Nusantara pada April lalu.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang nostalgia, tetapi juga turut memberdayakan pelaku UMKM di sekitar lokasi acara.
Meski memiliki potensi besar, Widiartomo menilai tantangan utama pengembangan ekonomi kreatif di Jember masih terletak pada rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya seni lokal.
Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun keberlanjutan industri kreatif, baik di bidang musik, film, maupun seni pertunjukan lainnya.
Karena itu, masyarakat Jember diharapkan dapat terus memberikan dukungan nyata terhadap karya-karya lokal agar ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....